7 Film Indonesia Terbaik di 2014

Ada kalanya, ketika ke bioskop nonton film Indonesia, kami menemukan mutiara-mutiara. Inilah ketujuh mutiara tersebut.

oleh Ade IrwansyahDiterbitkan 29 Desember 2014, 13:20 WIB
Arifin Putra dan Oka Antara punya cerita menarik saat melakoni adegan syuting yang dianggap paling menyakitkan.

Liputan6.com, Jakarta Ada seratusan lebih film Indonesia rilis tahun 2014. Bagaimana menentukan yang terbaik?

Hm, sebetulnya mudah saja mengidentifikasi mana film Indonesia yang layak tonton dan mana yang tidak. Pertama, Anda bisa telisik dari nama sutradaranya. Jika Anda tahu ia kerap membuat film baik, kemungkinan besar film yang ia buat juga akan selalu terbilang baik.

Lalu, lihat dari rumah produksi mana film sebuah film berasal. Jika rumah produksi tersebut biasa merilis film horor murahan, film yang mereka rilis biasanya tak pernah beranjak dari standar film murahan. Rumah produksi yang baik memiliki standar production value yang sudah mereka tentukan.

Ketiga, pemainnya. Anda tentu bisa mengidentifikasi aktor mana saja yang biasa main film-film berbobot dan mana yang tidak. Saya tak menonton semua film yang beredar di biioskop sepanjang tahun ini. Namun, saya bisa bilang, film-film yang terbilang baik saya tonton.

Ada kalanya, ketika ke bioskop nonton film Indonesia, saya menemukan mutiara-mutiara. Inilah ketujuh mutiara tersebut.

Baca juga:

5 Poster Film Indonesia Terbaik & 1 Terburuk di 2014

10 Film Hollywood Terbaik 2014

Lucunya 10 Nama Asli Artis Indonesia

5 Aktor Hollywood Paling Kemahalan di 2014

10 Peristiwa Hollywood yang Menghebohkan Dunia

 


No.7

Ada kalanya, ketika ke bioskop nonton film Indonesia, kami menemukan mutiara-mutiara. Inilah ketujuh mutiara tersebut.

7. The Raid 2: Berandal (Sutr. Gareth Evans)

Bagaimana mengungguli film pertama? Pertanyaan klasik sebuah sekuel menghinggapi Gareth Evans yang melanjutkan The Raid (2012) dengan The Raid 2: Berandal tahun ini.

Maka, Gareth kemudian memilih cara klasik: membuat sekuel yang serba Lebih (dengan "L" kapital) dan serba Wah (dengan "W" kapital) dari film pertama. Jika The Raid hanya bersetting di gedung, The Raid 2 bersetting Jakarta rasa Gareth Evans (di Jakarta versinya ada salju!). Tak kurang 10 mobil, dua motor sport, serta halte busway yang dibangun khusus untuk dihancurkan, jadi korban demi menyuguhkan aksi yang lebih fantastis.

Ceritanya juga lebih kompleks dengan karakter pembunuh yang beragam--yang layak punya cerita film sendiri-sendiri. Menonton film laga ultra-violence berdurasi 2,5 jam ini memang bikin kita kekenyangan. Mungkin karena itu after taste The Raid 2: Berandal tak senikmat film pertama.

Lanjut Baca:

6. Jalanan (Sutr. Daniel Ziv) Orang yang bisa merekam kehidupan jalanan Jakarta dengan amat baik ternyata bukan kita, yang sehari-hari tinggal di Jakarta, berkutat dengan kebisingan dan kemacetan saat pulang dan pergi ke kantor, melainkan seorang bule bernama Daniel Ziv. Lewat `Jalanan`, film dokumenter karya Ziv, kita melihat jalanan Jakarta lewat kacamata 3 pengamen: Ho, Titi, dan Boni. Ketiganya punya problem masing-masing. Kamera Ziv begitu intens merekam kehidupan tiga tokoh kita. Menontonnya kita ikut bersimpati dan jatuh hati pada kehidupan mereka. Lewat Ziv, kita tahu apa pengharapan mereka atas hidup yang tengah dijalani. Penonton melihat sedikit demi sedikit ketiganya tengah mengubah nasib masing-masing. Cara Ziv menyambung gambar dan bercerita nyaris membuat filmnya bak sebuah film cerita, bukan dokumenter.

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya