Liputan6.com, Pangkep: Sebanyak 3.000 karyawan PT Semen Tonasa menggelar aksi unjuk rasa di lingkungan pabrik di Kecamatan Biringe, Kabupaten Pangkep, Sulawesi Selatan, baru-baru ini. Seperti sejumlah aksi sebelumnya, mereka menolak rencana pemerintah yang akan melakukan put option atau perjanjian bersyarat baru dengan PT Cemex Indonesia yang akan jatuh tempo 26 Oktober mendatang. Alasannya, rencana tersebut dinilai justru akan merugikan negara hingga US$ 200 ribu per tahun atau setara kehilangan 8,6 juta ton semen. "Pemerintah tak perlu mengobral harta milik negara," kata koordinator aksi karyawan, Yusuf Ashad, di Pangkep.
Menurut Yusuf, sikap pemerintah itu secara luas cenderung mengorbankan kepentingan nasional. Hal tersebut akan lebih dirasakan oleh 6.000 karyawan PT Semen Tonasa. Aksi mereka ini juga dipicu masalah spin off yang masih belum kelar hingga saat ini [baca: Rencana Spin Off Semen Tonasa dan Semen Padang]. Selain menggelar spanduk, secara bergiliran pengunjuk rasa berorasi menuntut pelaksanan spin off Semen Tonasa dengan Semen Gresik Padang. Mereka mengancam akan mengambil alih manajemen dan operasional pabrik semen tersebut bila put option dilaksanakan.(DEN/Iwan Taruna)
Menurut Yusuf, sikap pemerintah itu secara luas cenderung mengorbankan kepentingan nasional. Hal tersebut akan lebih dirasakan oleh 6.000 karyawan PT Semen Tonasa. Aksi mereka ini juga dipicu masalah spin off yang masih belum kelar hingga saat ini [baca: Rencana Spin Off Semen Tonasa dan Semen Padang]. Selain menggelar spanduk, secara bergiliran pengunjuk rasa berorasi menuntut pelaksanan spin off Semen Tonasa dengan Semen Gresik Padang. Mereka mengancam akan mengambil alih manajemen dan operasional pabrik semen tersebut bila put option dilaksanakan.(DEN/Iwan Taruna)