Liputan6.com, Jakarta - PT Blue Bird Tbk kini resmi melantai di bursa saham Indonesia. Kinerjanya akan menjadi sorotan karena sekitar 65 persen pemegang saham merupakan investor asing, sedangkan sisanya sebesar 35 persen merupakan investor domestik.
Sayangnya operator taksi berkode emiten BIRD ini masih dirundung masalah yaitu konflik keluarga. Hal ini tentu akan memberi catatan merah pada perusahaan berlogo burung biru itu.
Direktur Utama Blue Bird, Purnomo Prawiro mengungkapkan, pihaknya telah menyampaikan segala sesuatu terkait konflik antar saudara di dalam prospektus. Dari prospektus tersebut, investor akan lebih mudah melihat apa yang terjadi yang bukan berasal dalam internal perusahaan.
Lebih jauh dia memastikan bahwa konflik tersebut murni berasal dari keluarga. Sementara di tubuh perseroan sendiri sudah adem ayem.
"Ini murni konflik keluarga yang sudah terjadi cukup lama di kisaran tahun 2000, jadi bukan karena orang luar dan bukan di Blue Bird. Di perseroan tidak ada konflik," tegas dia saat Konferensi Pers Pencatatan Saham Perdana di Gedung Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Rabu (5/11/2014).
Purnomo meyakinkan dan menenangkan investor bahwa konflik tersebut tidak akan mengganggu kinerja perseroan. "Kami akan tetap berusaha sekuat tenaga, apapun yang terjadi perusahaan harus tetap berkembang karena ada 35 ribu orang yang bernaung di perusahaan ini," papar dia.
Seperti diketahui, konflik antar saudara ini bermula saat para pemilik Blue Bird pecang kongsi. Kakak kandung Purnomo, Mintarsih A Latief, sekaligus pengelola perusahaan taksi PT Gamya menuntut hak saham di perusahaan burung biru.
Perang saudara berlanjut dengan tuntut menuntut ganti rugi materiil Rp 25 miliar dan imateriil Rp 50 miliar saat Blue Bird hendak melantai di bursa. Tak mau kalah, Purnomo balas menggugat Mintarsih. Gugatannya menuding Mintarsih lepas tanggung jawab di perusahaan keluarga itu sejak 1993 dan lebih fokus pada Gamya. (Fik/Gdn)
Advertisement