Pengamat: Demokrat dan PPP Mungkin Akan Merapat ke Jokowi-JK

Namun lain halnya dengan PAN yang sebelumnya juga digembor-gemborkan akan berpaling ke kubu pemerintahan Jokowi-JK.

oleh Taufiqurrohman diperbarui 23 Agu 2014, 11:25 WIB
Prabowo-Hatta dan Jokowi-JK (Liputan6.com/Andri Wiranuari)

Liputan6.com, Jakarta - Koalisi Merah Putih pendukung Prabowo-Hatta masih menyatakan diri solid. Namun pengamat politik dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Siti Zuhro menilai, kemungkinan besar akan ada partai dari koalisi tersebut yang menyeberang ke Jokowi-JK.

Parpol yang Siti maksud, yakni Partai Demokrat dan PPP. Ini karena semua kader kedua partai tersebut dianggap tidak seutuhnya mendukung pasangan Prabowo-Hatta dalam Pilpres 2014, 9 Juli lalu.

"Satu atau dua partai kemungkinan akan merapat ke Jokowi-JK. Seperti Demokrat ini tidak jelas kadang-kadang hadir di Koalisi Merah Putih, kadang hadir juga di koalisi Jokowi-JK," kata Siti dalam diskusi polemik 'Peta Politik Pasca Pilpres' di Cikini, Jakarta Pusat, Sabtu (23/8/2014).

"Dan PPP mendukung Prabowo-Hatta juga tidak utuh. Ini menunjukan bahwa suara minus ketum itu lebih besar ke Jokowi-JK, ke sini-sini sudah masuk kecenderungan yang lebih kelihatan," imbuh dia.

Namun lain halnya dengan PAN yang sebelumnya juga digembor-gemborkan akan berpaling ke kubu pemerintahan Jokowi-JK. Siti meniali, kemungkinan berpalingnya PAN itu kecil karena beban moral yang dialami partai, karena dalam koalisi Merah Putih Ketua Umum PAN Hatta Rajasa maju sebagai cawapres.

"Kalau PAN punya beban moral yang luar biasa karena ketumnya menjadi cawapres, solidaritasnya itu yang seakan dipertaruhkan, kecuali ada pergantian ketua umum dan Pak Hatta tidak lagi jadi ketua umum," ujar dia.

Hal yang sama pun dialami Partai Golkar. Siti berkeyakinan di kepemimpinan Aburizal Bakrie atau Ical, Partai Golkar akan setia bersama Koalisi Merah Putih berada di luar pemerintahan.

"Golkar pasti tidak (bergabung Jokowi-JK) kalau ketuanya masih Pak ARB. Pokoknya sampai 2014 ini masih Pak ARB masih tidak mungkin ke sana. Kecuali ganti ketum dan kubunya Pak ARB dan Pak Akbar kalah bisa saja 2015 ke sana," tandas Siti. (Ein)

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya