Penting Mana: Uang Baru NKRI atau Redenominasi Rupiah?

Pengusaha menyambut baik peredaran uang cetakan baru atau yang disebut dengan uang Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

oleh Septian Deny diperbarui 14 Agu 2014, 10:18 WIB
Ilustrasi Pantau Rupiah (Liputan6.com/Andri Wiranuari)

Liputan6.com, Jakarta Pengusaha menyambut baik peredaran uang cetakan baru atau yang disebut dengan uang Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Wakil Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Bidang Perdagangan dan Kerjasama Ekonomi Internasional Chris Kanter mengatakan bahwa dengan penyebutan uang NKRI ini akan memperkuat penggunaan uang tersebut di dalam negeri terutama di wilayah perbatasan.

"Ini bagus, karena intinya mungkin untuk menguatkan mata uang kita didalam negeri sendiri, makanya disebut dengan uang NKRI," ujarnya saat berbincang dengan Liputan6.com di Jakarta, Kamis (14/8/2014).

Dia menjelaskan, dengan peredaran uang cetakan baru ini diharapkan bisa membuat tingkat peredaran uang palsu di Indonesia semakin kecil.

"Ini bagus untuk mencegah peredaran uang palsu, dan bagaimana pun kita kan tidak boleh berhenti untuk menambah inovasi agar tidak bisa dipalsukan. Kalau ada yang tingkat security-nya lebih baik kenapa tidak dicoba," katanya.

Meski demikian, Chris juga mempertanyakan soal rencana redenominasi rupiah yang sempat ramai diperbincangkan beberapa waktu lalu. Menurutnya hal tersebut lebih penting daripada pemerintah mencetak uang baru.

"Tetapi yang lebih penting soal redenominasi, apakah itu akan akan tetap dilaksanakan. Konteks itu lebih penting. Karena mata uang kita termasuk yang terlalu besar, sehingga tidak efektif. Itu yang memang harus untuk diputuskan apakah akan tetap dilaksanakan atau tidak," jelas dia.

Chris menilai, redenominasi rupiah akan lebih banyak membawa dampak positif bagi Indonesia dan hal ini telah sukses dilakukan oleh Turki.

"Kalau dilihat itu sepertinya memang menjadi keharusan. Melihat dampak dari negara yang sudah melakukannya, lebih banyak manfaat yang bisa didapatkan seperti yang dilakukan oleh Turki. Kalau tidak angka nominal kita terlalu besar," tandasnya. (Dny/Ndw/igw)

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya