Ketidakpastian Hasil Pilpres Bikin Rupiah Loyo

Nilai tukar rupiah masih akan menunjukkan tren pelemahan selama beberapa waktu ke depan akibat ketidakpastian politik di Tanah Air.

oleh Siska Amelie F DeilDiterbitkan 04 Agustus 2014, 13:22 WIB
Ilustrasi Rupiah Turun (Liputan6.com/Andri Wiranuari)

Liputan6.com, Jakarta Meski Komisi Pemilihan Umum (KPU) telah memutuskan Joko Widodo sebagai presiden terpilih berdasarkan hasil rekapitulasi yang berakhir pada 22 Juli 2014, tapi pertarungan kedua kandidat presiden masih belum berakhir.

Langkah kandidat presiden nomor urut satu melapor ke Mahkamah Konstitusi (MK) memperpanjang babak baru pemilihan presiden 2014 dan berdampak pada pelemahan rupiah.

Mengutip data kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia (BI), Senin (4/8/2014), usai libur Lebaran selama sepekan, rupiah menunjukkan pelemahan yang cukup signifikan di level Rp 11.747 per dolar Amerika Serikat (AS). Pada perdagangan 25 Juli 2014 atau sebelum libur Lebaran dimulai, rupiah tercatat berada di level level Rp 11.591 per dolar AS.

Meski sempat dibuka menguat, data valuta asing Bloomberg juga menunjukkan rupiah bergerak melemah. Rupiah kini berada di kisaran Rp 11.705 per dolar AS hingga Rp 11.760 per dolar AS.

Ekonom PT Bank Saudara Tbk, Rully Nova menilai, rupiah masih akan menunjukkan tren pelemahan selama beberapa waktu ke depan akibat ketidakpastian politik di Tanah Air. Keputusan hasil pilpres masih menjadi faktor utama penekan nilai tukar rupiah.

"Kecenderungan rupiah masih akan melemah, apalagi ada rumor pengumuman hasil pilpres akan berlangsung tidak aman. Ini membuat para investor khawatir," terangnya saat berbincang dengan Liputan6.com, Senin (4/8/2014).

Sekedar informasi, tim Prabowo Subianto menggugat pelaksaan pemilihan presiden ke MK. Menurut mereka, banyak kecurangan yang dilakukan oleh KPU Daerah sehingga membuat suara mereka berkurang.

Meski demikian, Rully mengatakan, pelemahan nilai tukar rupiah sejauh ini masih berada di bawah pengawasan dan kendali BI. Sejauh ini, perdagangan yang terlalu besar membuat BI secara efektif dapat menahan pelemahan rupiah agat tidak terlalu signifikan.

"Rupiah saat ini masih rentan, tapi BI masih berusaha menjaga agar volatilitasnya tidak terlalu tinggi," tandasnya.

Sementara dari faktor ekonomi, Rully menilai defisit transaksi berjalan masih menjadi sentimen paling signifikan dalam mempengaruhi pergerakan rupiah. Meski demikian, faktor politik masih akan lebih mendominasi dan berpengaruh.

Sepekan ke depan, Rully memprediksi rupiah masih akan terus melemah mendekati kisaran 12.000 per dolar AS. "Tapi belum akan menyentuh 12.000 per dolar AS," jelasnya.

Faktor luar negeri atau sentimen dari luar negeri juga ikut menekan nilai tukar rupiah. Analis Pasar Uang HSBC Holding Plc, New York, AS, Robert Lynch mengatakan, beberapa hari terakhir dolar terus menguat karena beberapa penyebab seperti data pertumbuhan ekonomi negeri Paman Sam dan juga data mengenai angka pengangguran.

"Data-data yang keluar tersebut sesuai dengan harapan The Fed untuk menaikkan suku di tengah 2015" jelasnya seperti ditulis oleh Bloomberg. Robert melanjutkan dengan data sesuai dengan estimasi The Fed tersebut, permintaan akan dolar menjadi meningkat dan membuat mata uang tersebut menguat terhadap semua mata uang utama dunia. (Sis/Gdn)

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya