Liputan6.com, Washington DC - Delapan puluh anggota militer Amerika Serikat telah berada di Afrika Utara untuk mengawasi operasi pesawat tak berawak (drone) guna mencari 276 murid wanita Nigeria yang diculik oleh Boko Haram, demikian disampaikan oleh pemerintahan Obama hari Rabu lalu, seperti dimuat NBC News, 22 Mei 2014.
Gedung Putih telah mengirimkan pemberitahuan resmi kepada Kongres bahwa tentara telah berada di Chad yang berbatasan dengan Nigeria. Kiriman dinas itu mencakup 40 orang untuk menjalankan dan merawat pesawat nir-awak Predator dan 40 orang lagi untuk melindungi kontingen tersebut.
Advertisement
“Pasukan ini akan mendukung operasi pesawat intelijen, pengawasan dan pengintaian untuk tugas-tugas di kawasan utara Nigeria dan wilayah di sekitarnya,” jelas Presiden Barack Obama dalam surat pemberitahuannya. “Kekuatan ini akan tetap berada di Chad hingga dukungannya untuk memecahkan situasi penculikan ini tidak diperlukan lagi.”
Gedung Putih memberitahukan Kongres sesuai dengan amanat World Powers Resolution yang dapat dilaksanakan ketika angkatan-angkatan bersenjata Amerika Serikat memasuki wilayah negara asing. Seluruh anggota pasukan itu diperlengkapi senjata tempur untuk perlindungan diri.
Gadis-gadis muda murid sekolah di Nigeria diciduk satu bulan lalu oleh kelompok Boko Haram, yang kemudian menuntut pembebasan tahanan militant untuk ditukar dengan para sandera.
Seorang jendral Angkatan Bersenjata Amerika Serikat di Afrika telah dikirim ke Nigeria di awal bulan ini untuk membantu pemerintah Nigeria dalam pencariannya.
Anggota militer tak berseragam dari Amerika Serikat sudah berada di kawasan itu untuk membantu keamanan kedutaan besar dan melakukan koordinasi dengan pemerintah Nigeria. Sebetulnya keterlibatan Predator sudah diketahui sejak hari Rabu lalu, namun saat itu belum ada kabar bahwa operasinya berbasis di negara Chad.
Boko Haram diyakini telah melakukan dua serangan di Nigeria dalam minggu ini, yakni dua peledakan bom kembar di kota Jos dan suatu serangan di tiga desa. Secara keseluruhan, sudah lebih dari 166 orang tewas karenanya. (Ein)