Tak Bisa Bayar Jaminan RS, Nyawa Balita Zikri Tak Tertolong

Nyawa balita Zikri Hilman Hasibuan (14 bulan) tak bisa tertolong lagi karena orangtua tak bisa membayar uang jaminan Rp 4 juta di sebuah RS.

oleh Thariq GibranDiterbitkan 30 April 2014, 16:05 WIB
(Liputan6.com/Rahmat Hidayat)

Liputan6.com, Bekasi Kemiskinan masih menghantui pasangan suami istri dari Bekasi, Jawa Barat, Saipul Hikban Hasibuan(37) dan Supriatin(35). Keduanya harus merelakan kepergian putra satu-satunya Zikri Hilman Hasibuan (14 bulan) akibat tak bisa memberikan uang jaminan untuk rawat inap di sebuah rumah sakit di Babelan, Kabupaten Bekasi.

Zikri meninggal di ruang UGD Rumah Sakit Tiara, Babelan, Kabupaten Bekasi, sebelum mendapatkan perawatan di rumah sakit tersebut.

Saipul mengatakan, pihak rumah sakit memintanya membayar uang jaminan rawat inap sebesar Rp 4 juta. Namun, ia hanya sanggup membayar jaminan Rp 2 juta. Akibatnya, pihak rumah sakit tak memberikan rawat inap terhadap putranya yang panas tinggi sehingga meninggal dunia.

Kejadian itu bermula pada Selasa (29/4) sore ketika putranya mengalami panas tinggi. Saipul kemudian membawanya ke rumah sakit dan setelah dilakukan pemeriksaan dokter memberikan obat. Ia dan istrinya kemudian langsung pulang ke rumah.

Setelah dibawa pulang ke rumah, lanjut Saipul, panas di tubuh Zikri semakin tinggi dan sempat mengalami kejang-kejang. Karena takut terjadi hal yang tak diinginkan, Saipul dan istrinya membawa Zikri kembali ke rumah sakit di malam harinya.

"Saya meminta agar anak dirawat inap, namun salah satu bagian administrasi rumah sakit meminta uang jaminan rawat inap sebesar Rp 4 juta. Mereka mengatakan tanpa uang jaminan sebesar Rp 4 juta, pihak rumah sakit enggan memberikan ruang rawat inap," kata Saipul kepada Liputan6.com, Bekasi, Rabu (30/4/2014).

Bahkan Saipul dan istrinya memohon kepada pihak rumah sakit agar mau menerima uang jaminan yang ia bawa sebesar Rp 2 juta, namun pihak rumah sakit tetap menolak dan tak mau membawa anaknya ke ruang perawatan.

"Anak saya hanya diberi oksigen dan infusan di ruang UGD, tanpa mendapatkan perawatan di ruang inap sehingga meninggal dunia," kata Saipul dengan berlinang air mata.

Kecewa karena Uang Jaminan

Bayu (36) salah satu kerabat korban mengatakan sangat kecewa sekali dengan pelayanan rumah sakit yang tak mau membawa Zikri ke ruang perawatan. Padahal, keadaannya sudah  kritis dan membutuhkan perawatan intensif.

Menurut Bayu, hanya karena orangtuanya tak mampu membayar uang jaminan sebesar Rp 4 Juta, nyawa Zikri tak tertolong. "Kejadian ini bukan hanya sekali saja terjadi di RS T. Bahkan sudah beberapa kali terjadi hal serupa menimpa warga sekitar," ujarnya.

Pihak keluarga berharap Pemerintah Kabupaten Bekasi dan Dinas Kesehatan bisa turun tangan dan memberikan sanksi kepada RS, khususnya rumah sakit swasta yang tidak memberikan pelayanan sebagaimana mestinya. Bila dibiarkan begini terus dikwatirkan banyak warga yang kehilangan nyawa dengan sia-sia hanya kerena uang semata.

Setelah disemayamkan di rumah duka di Perum Bumi Anugerah Sejahtera (BAS), jasad bocah malang tersebut langsung dimakamkan di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Bintara, Bekasi Barat, Kota Bekasi. Terlihat sejumlah kerabat dan tetangga ikut menghadiri prosesi pemakaman tersebut.

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) pernah berpesan agar rumah sakit tak lagi menolak rakyat miskin saat peresmian Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan.

"Saya tak mau mendengar rakyat kurang mampu ditolak rumah sakit dan tak bisa berobat karena alasan biaya. BPJS Kesehatan untuk memberikan perlindungan kesehatan pada rakyat miskin. Rakyat miskin dirawat dan berobat secara gratis di puskesmas dan rumah sakti dan dijamin oleh BPJS," kata Presiden SBY  di Istana Bogor.

POPULER

    Berita Terkini Selengkapnya