Bea Masuk Dihapus, RI Makin Rajin Impor Biji Kakao

Impor biji coklat Indonesia dapat mencapai 120 ribu metrik ton dari 30 ribu ton tahun lalu

oleh Siska Amelie F Deil diperbarui 16 Apr 2014, 19:30 WIB
(Foto: Antara)

Liputan6.com, Jakarta Pembelian coklat Indonesia, diprediksi dapat terus meningkat hingga empat kali lipat hingga menyentuh rekor tertinggi tahun ini seiring dengan rencana pemerintah menghapuskan bea impor. Kondisi tersebut dipicu tingginya permintaan hingga melampaui pasokan yang tersedia.

Seperti dikutip dari Bloomberg, Rabu (16/4/2014), Ketua Umum Asosiasi Industri Kakao Indonesia (AIKI) Piter Jasman mengatakan, impor biji kakao Indonesia dapat mencapai 120 ribu metrik ton dari 30 ribu ton tahun lalu. Sementara kapasitas pengolahan biji kakao menjadi bubuk coklat dan mentega pada sejumlah pabrik baru dapat meningkat 67% menjadi 600 ribu ton dari 360 ribu ton.

Menteri Perdagangan Muhammad Lutfi mengungkapkan, bea impor kakao sebesar 5% harus dihapuskan mengingat para pengolah coklat menghadapi kekurangan bahan baku hingga 100 ribu ton tahun ini.

Sementara itu, harga biji kakao di New York tercatat meningkat 29% selama setahun terakhir setelah permintaan melampaui pasokan yang tersedia. Peningkatan pengolahan di Indonesia untuk memenuhi konsumsi coklat di Asia dapat mengurangi ekspor yang diperkirakan mencapai 188 ribu ton pada 2013.

Kurangnya pasokan dapat memperlebar prediksi defisit global dari International Cocoa Organization sebesar 115 ribu ton. Tak hanya itu, rendahnya pasokan juga dapat meningkatkan biaya produksi coklat seperti Nestle SA dan Lindt & Spruengli AG.

"Masalah utama adalah adanya kekurangan persediaan. Penghapusan pajak impor dapat membantu para penggiling biji kakao Indonesia untuk bersaing dengan pengolah kakao di Malaysia dan Singapura di mana bea impor tidak berlaku," ujarnya.

Lutfi mengatakan, pihaknya telah bersiap menghapuskan bea impor tersebut. Kementerian perdagangan menyatakan penghapusan bea tersebut memang dimaksudkan untuk meningkatkan permintaan biji kakao dari para penggiling lokal.

 

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya