Liputan6.com, Jakarta Usul menaikkan harga jual Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi kembali menguat jelang pemerintahan baru hasil Pemilihan Umum (Pemilu) 2014. Kebijakan kenaikan harga bahkan dinilai satu-satunya cara ampuh untuk menekan konsumsi BBM bersubsidi.
Pengamat Energi dari Refomainer Institute Priagung Rakhmanto mengatakan, sisa kuota BBM bersubsidi tahun lalu menjadi bukti kebijakan kenaikan harga BBM sebagai cara paling ampuh menekan konsumsi masyarakat.
"Kalau pelarangan-pelarangan susah mengawasinya," kata Priagung saat berbincang dengan Liputan6.com, seperti ditulis, Minggu (30/3/2014).
Menteri Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) Jero Wacik mengaku cara paling mudah menghemat konsumsi BBM bersubsidi adalah menaikkan harga. Dengan harga yang mahal, masyarakat diyakini bakal melakukan penghematan cukup besar.
"Cara menghemat kuota paling mudah menaikan BBM itu paling mudah langsung turun subsidi," ungkap Jero.
Diakui Jero, kebijakan menaikkan BBM tergolong mudah namun tidak disukai oleh rakyat. Akibatnya, pemerintah melakukan cara yang lebih sulit untuk menekan konsumsi BBM masyarakat.
Sementara itu, Pengamat Transportasi Joko Stidjowarno menilai pengendalian BBM bersubsidi hanya akan efektif jika pemerintah melarang mobil pribadi menggunakan BBM bersubsidi. Alasannya, jumlah mobil pribadi kini paling banyak mengonsumsi BBM untuk masyarakat miskin tersebut.
"Bagaimana BPH Migas berani nggak lebih frontal melarang kendaraan pribadi pakai BBM subsidi kita Rp 227 triliun untuk kendaraan pribadi, sedangkan minyak kita impor," pungkasnya.
Advertisement