Liputan6.com, Surabaya: Sebuah bom ditemukan polisi di Rumah Sakit Surabaya Internasional di Taman Intan Nginden Surabaya, Jawa Timur, Senin (17/9) malam. Untungnya, bom yang dipasang orang tak dikenal itu, belum meledak dan berhasil dijinakkan Tim Penjinak Bahan Peledak Polda Jatim. Aksi teror di Kota Pahlawan itu adalah kedua kalinya pascapengeboman di kawasan pemukiman Kedung Sroko, sebulan silam.
Sejumlah saksi mata mengungkapkan, pukul 18.00 WIB operator di RS Surabaya Internasional menerima telepon bernada ancaman dari seorang laki-laki. Penelepon gelap itu menyebutkan telah menaruh sebuah bom rakitan di lobi rumah sakit. Ancaman tersebut dilakukan si penelepon kembali semenit berikutnya. Petugas keamanan RS segera melaporkan ancaman itu kepada polisi. Tim Jihandak bergerak cepat menyisir lokasi dan berhasil menemukan sebuah bom plus timer-nya. Rupanya, peneror berniat meledakkan bom tepat pukul 21.00 WIB. Tapi, bom rakitan keburu ditemukan polisi dan langsung diledakan di daerah Kenjeran.
Beberapa jam sebelumnya, ancaman pengeboman juga terjadi di Supermarket Nina Fair Price. Kebetulan pusat perbelanjaan itu terletak tak jauh dari RS Surabaya Internasional. Tak lama kemudian Tim Jihandak menemukan sebuah granat nanas dengan gelang karet melilit pada pin-nya. Granat itu, disembunyikan dalam etalase pakaian di sebuah toko. Pelaku merencanakan granat akan meledak jika pembeli mengambil pakaian dari etalase tersebut.
Kepala Kepolisian Wilayah Kota Besar Komisaris Besar Ito Sumardi mengungkapkan, hasil sementara penelitian forensik menjelaskan bahwa bom yang ditemukan berjenis power gel. Tapi, bom di RS Surabaya tidak ditambah dengan paku atau sekrup seperti bom yang meledak di Kedung Sroko [Baca: Seorang Wanita Tewas Akibat Ledakan Bom]. Kendati demikian, polisi belum bisa memastikan adanya keterkaitan di antara kedua peristiwa pengeboman tersebut."Pelaku memang mencoba untuk membuat panik masyarakat dengan cara teror bom," kata Ito. Karena itu, Ito mengharapkan masyarakat segera melaporkan kepada polisi jika menemukan barang yang dicurigai berupa bom.(KEN/Hasan Sentot dan Joko Sulistio Budi)
Sejumlah saksi mata mengungkapkan, pukul 18.00 WIB operator di RS Surabaya Internasional menerima telepon bernada ancaman dari seorang laki-laki. Penelepon gelap itu menyebutkan telah menaruh sebuah bom rakitan di lobi rumah sakit. Ancaman tersebut dilakukan si penelepon kembali semenit berikutnya. Petugas keamanan RS segera melaporkan ancaman itu kepada polisi. Tim Jihandak bergerak cepat menyisir lokasi dan berhasil menemukan sebuah bom plus timer-nya. Rupanya, peneror berniat meledakkan bom tepat pukul 21.00 WIB. Tapi, bom rakitan keburu ditemukan polisi dan langsung diledakan di daerah Kenjeran.
Beberapa jam sebelumnya, ancaman pengeboman juga terjadi di Supermarket Nina Fair Price. Kebetulan pusat perbelanjaan itu terletak tak jauh dari RS Surabaya Internasional. Tak lama kemudian Tim Jihandak menemukan sebuah granat nanas dengan gelang karet melilit pada pin-nya. Granat itu, disembunyikan dalam etalase pakaian di sebuah toko. Pelaku merencanakan granat akan meledak jika pembeli mengambil pakaian dari etalase tersebut.
Kepala Kepolisian Wilayah Kota Besar Komisaris Besar Ito Sumardi mengungkapkan, hasil sementara penelitian forensik menjelaskan bahwa bom yang ditemukan berjenis power gel. Tapi, bom di RS Surabaya tidak ditambah dengan paku atau sekrup seperti bom yang meledak di Kedung Sroko [Baca: Seorang Wanita Tewas Akibat Ledakan Bom]. Kendati demikian, polisi belum bisa memastikan adanya keterkaitan di antara kedua peristiwa pengeboman tersebut."Pelaku memang mencoba untuk membuat panik masyarakat dengan cara teror bom," kata Ito. Karena itu, Ito mengharapkan masyarakat segera melaporkan kepada polisi jika menemukan barang yang dicurigai berupa bom.(KEN/Hasan Sentot dan Joko Sulistio Budi)