Liputan6.com, Jombang: Pengamat sosial dan kebudayaan Universitas Darul Ulum Jombang, Jawa Timur, Tadjoer Ridjal, mengatakan fenomena dukun cilik Ponari akan hilang dengan sendirinya. "Mengenai kapan itu akan terjadi, tergantung situasi dan kondisi masyarakat," kata dia, Ahad (22/2).
Fenomena Ponari adalah potret masyarakat yang masih memegang teguh pemikiran tradisional. Mitos lama itu, lanjut Tadjoer, adalah munculnya sosok Ki Ageng Selo yang melegenda di masyarakat Jawa ratusan tahun silam. Ki Ageng Selo mendadak sakti setelah petir yang hendak menyambarnya mampu dihalau dan berubah menjadi sebuah batu.
Advertisement
"Legenda Ki Ageng Selo itu kembali dihidupkan di tengah masyarakat dengan menampilkan sosok Ponari. Dalam tinjauan sosiologi dan kebudayaan, kedua sosok ini sama-sama memiliki power yang digambarkan oleh kalangan masyarakat tertentu sebagai bentuk kesaktian," kata Tadjoer.
Berdasarkan tradisi, kekuasaan itu tidak diperoleh melalui pencapaian prestasi, tapi askriptif dengan penaklukan dan penyerapan. Penyerapan bisa didapatkan dari faktor keturunan dan titisan. "Ponari merupakan askriptif penyerapan titisan. Masyarakat menganggap Ponari merupakan titisan dari Ki Ageng Selo sehingga dia pun dianggap memiliki kesaktian".
Kemampuan Ponari tak bisa diukur menggunakan paradigma rasio empiris. Biasanya fenomena itu berakhir setelah munculnya unsur komersial. "Karena kesaktian seseorang didasari syarat-syarat moral, di antaranya membantu orang lain tanpa pamrih. Jadi secara otomatis, kesaktian seseorang akan sirna jika sudah berorientasi pada materi," imbuh Tadjoer [baca: Ponari...Bapak Ingin Memelukmu].(YNI/ANTARA)