Pementasan Ardha Nareeshura di Paris Sukses

Pementasan tarian Ardha Nareeshura di Royal Palace, Prancis, mendapat sambutan hangat dari para penonton. Tarian ini berasal dari pengembangan tarian Kuchipudhi.

oleh Liputan6Diterbitkan 19 Agustus 2001, 04:45 WIB
Liputan6.com, Jakarta: Tarian Kuchipudhi yang dianggap sebagai mitos India kuno dikemas ulang. Hasilnya, menjadi tarian Ardha Nareeshura. Ketika dipentaskan di Royal Palace, Prancis, Jumat (17/8), tarian versi baru ini mendapat sambutan hangat dari para penonton.

Tarian Kuchipudhi telah ada sejak abad ketiga sebelum masehi. Tarian ini mengisahkan mitos perpaduan energi antara pria dan wanita dalam diri seorang dewa, yaitu Shiwa. Awalnya, tarian yang terdiri dari kombinasi antara ritme cepat, perubahan gerakan mendadak, serta ungkapan emosi ini hanya ditampilkan di kuil-kuil. Tujuannya, untuk menghormati para dewa. Tapi, seiring dengan perkembangan zaman, hanya pria yang boleh manarikan Kuchipudhi. Sebab, bila wanita yang menarikan akan tampak gerakan erotis.

Ketika Inggris berkuasa di India, kaum hawa kembali diperkenankan menarikan Kuchipudhi. Izin itu tak berubah ketika India merdeka 50 tahun silam dan hingga saat ini. Kisah tarian ini berawal dari seorang bijak bernama Baghiratha yang ingin membangkitkan ruh nenek moyangnya yang ada di surga dengan bantuan Dewa Brahma. Tapi, untuk itu, ia memerlukan percikan air Sungai Gangga yang dalam mitos India dianggap berpengaruh sangat kuat.

Dalam akhir cerita ini, Baghiratha berhasil menangkap kepala Gangga, sehingga air sungai suci itu berhasil dipercikkan. Nah, keberhasilan menangkap Gangga itu dalam mitos India dianggap perpaduan energi wanita dan pria dalam wujud Dewa Shiwa. Sebab itu, tubuh Dewa Shiwa diwujudkan dalam bentuk setengah pria dan wanita.(AWD/Jsi)

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya