Liputan6.com, Majene: Setelah terkendala cuaca buruk, tim pencarian korban Kapal Motor Teratai Prima kembali menyisir sepanjang pantai Pamboang, Majene, Sulawesi Barat, Senin (12/1) siang. Namun, setelah menelusuri pantai dengan panjang lima kilometer tersebut, belum ditemukan lagi adanya korban dari penumpang KM Teratai.
Menurut Sekretaris Palang Merah Indonesia Pamboang, Darwis, hingga kini pencarian masih berlangsung. Namun, upaya tim SAR masih terkendala oleh tingginya gelombang. "Kini [tinggi] ombak empat meter," ucap Darwis melalui sambungan telepon dalam tayangan Liputan 6 Petang.
Sementara itu, sejumlah keluarga korban sampai petang ini masih berdatangan di Rumah Sakit Umum Daerah Majene untuk mengecek keberadaan keluarga mereka.
Di Samarinda, Kalimantan Timur, keluarga korban juga mendatangi posko pendataan korban di kantor KP3, Kepolisian Kota Besar Samarinda. Sejumlah foto penumpang kapal yang menjadi korban dipasang untuk memudahkan identifikasi. Banyak di antara mereka yang tak kuasa menahan rasa sedih menunggu nasib keluarga mereka yang hingga kini belum jelas.
Sementara Menteri Perhubungan Jusman Syafii Djamal menyatakan, tenggelamnya KM Teratai bukan karena kondisi kapal maupun jumlah penumpang yang melebihi manifes. Penyebabnya menurut Menhub karena kapal berlayar di saat cuaca buruk, padahal larangan berlayar sudah dikeluarkan.
Untuk memastikan penyebab kecelakaan, Dephub telah menurunkan tim investigasi. Sedangkan jumlah korban selamat yang ditemukan hingga petang ini berjumlah 21 orang, sedangkan 229 penumpang lainnya yang terdaftar di manifest belum ditemukan [baca: Empat Korban Kapal Teratai Prima Ditemukan].(ADO/Tim Liputan 6 SCTV)
Menurut Sekretaris Palang Merah Indonesia Pamboang, Darwis, hingga kini pencarian masih berlangsung. Namun, upaya tim SAR masih terkendala oleh tingginya gelombang. "Kini [tinggi] ombak empat meter," ucap Darwis melalui sambungan telepon dalam tayangan Liputan 6 Petang.
Sementara itu, sejumlah keluarga korban sampai petang ini masih berdatangan di Rumah Sakit Umum Daerah Majene untuk mengecek keberadaan keluarga mereka.
Di Samarinda, Kalimantan Timur, keluarga korban juga mendatangi posko pendataan korban di kantor KP3, Kepolisian Kota Besar Samarinda. Sejumlah foto penumpang kapal yang menjadi korban dipasang untuk memudahkan identifikasi. Banyak di antara mereka yang tak kuasa menahan rasa sedih menunggu nasib keluarga mereka yang hingga kini belum jelas.
Sementara Menteri Perhubungan Jusman Syafii Djamal menyatakan, tenggelamnya KM Teratai bukan karena kondisi kapal maupun jumlah penumpang yang melebihi manifes. Penyebabnya menurut Menhub karena kapal berlayar di saat cuaca buruk, padahal larangan berlayar sudah dikeluarkan.
Untuk memastikan penyebab kecelakaan, Dephub telah menurunkan tim investigasi. Sedangkan jumlah korban selamat yang ditemukan hingga petang ini berjumlah 21 orang, sedangkan 229 penumpang lainnya yang terdaftar di manifest belum ditemukan [baca: Empat Korban Kapal Teratai Prima Ditemukan].(ADO/Tim Liputan 6 SCTV)