IR 64 Gantikan Supertoy yang Gagal

Para petani di Purworejo, Nganjuk, dan Madiun meminta ganti rugi. Tapi di Kulonprogo, Yogyakarta, petani mengganti Supertoy dengan padi biasa yang hasilnya lebih menguntungkan.

oleh Liputan6Diterbitkan 10 September 2008, 16:56 WIB

Liputan6.com, Kulonprogo: Setelah menanam padi jenis Supertoy dengan hasil yang mengecewakan, kini Darminto tidak mau berlarut dengan kekecewaan. Petani dari Desa Nanggulan, Kabupaten Kulonprogo, Daerah Istimewa Yogyakarta, ini segera menggantinya dengan padi biasa, yakni IR 64. Langkah ini dilakukan untuk menghindari kerugian lebih besar [baca: Petani Ragu Teruskan Penanaman Supertoy].

Sebab, dengan menanam Supertoy yang dipromosikan memberi hasil lebih baik, hasilnya hanya tiga setengah kuintal di lahan 4.000 meter persegi. Padahal di lahan yang sama, IR 64 mampu menghasilkan lima hingga enam kuintal.

Kekecewaan juga dialami Sumono, petani asal Desa Muruh, Gantowarno, Klaten, Jawa Tengah. Hasil panen Supertoy di lahan satu hektare hanya 7,3 ton. Padahal dengan padi IR 64 bisa mencapai 10 ton. Sumono dan petani lain yang kecewa menuntut ganti rugi karena hasil Supertoy tidak seperti yang dijanjikan.

Menanggapi keluhan para petani yang sudah kecewa dengan Supertoy, PT Sarana Harapan Indopangan selaku penanggung jawab Supertoy berjanji akan memenuhi tuntutan para petani. Padi Supertoy HL-2 adalah hasil penelitian Tuyung alias Supriyadi, warga Sanden, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta.

Di lahan berpasir kawasan Pantai Sanden, Tuyung juga tengah mengembangkan tanaman lain seperti cabai, tembakau, jagung, dan kacang panjang. Namun, Supertoy belum melewati proses sertifikasi sehingga belum bisa ditanam secara massal di lahan petani.

Boleh dibilang, Supertoy, Tuyung Supriyadi, dan Heru Lelono adalah tiga nama yang saling bertaut. Sejak ratusan petani Desa Grabag, Purworejo, Jateng, memprotes kegagalan panen Supertoy dan menuntut ganti rugi hingga Rp 1,6 miliar, tiga nama ini menjadi kontroversial.

Hasil persilangan varietas lokal, rojolele, dan pandanwangi, tersebut diklaim bisa menghasilkan 15,5 ton gabah per hektare. Ini berarti jauh di atas hasil padi varietas unggul yang dikenal selama ini yang hanya sekitar empat ton per hektare. Dan yang membikin petani kesengsem, Supertoy bisa dipanen tiga kali per tahun tanpa tanam ulang.

Dari sini, Heru Lelono yang juga staf khusus Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menyebarkan Supertoy ke daerah lain. Tak lupa tim riset dibentuknya. Kata sandi HL pun disematkan di belakang nama temuan ini. Berkat Heru, pengembangan Supertoy jadi mudah. Presiden pun mendukungnya.

Supertoy HL-2 pertama kali diuji coba di Desa Grabag, Desember 2007. Selain itu juga diujicobakan di Bantul serta sejumlah kabupaten di Jawa Timur dan Bali. Dan sejauh ini belum ada kata sepakat di kalangan ahli pertanian ihwal Supertoy.(ANS/Tim Liputan 6 SCTV)

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya