Liputan6.com, Jakarta: Presiden Abdurrahman Wahid mengusulkan kepada negara agar almarhum Jaksa Agung Baharuddin Lopa dianugerahi tanda kehormatan Bintang Mahaputera atas jasa-jasanya kepada negara. "Saya serahkan kembali jasad beliau kepada Allah atas nama negara. Dan saya mengusulkan untuk memberikan gelar Mahaputera," kata Presiden saat memberikan sambutan pada pemakaman Lopa di Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta Selatan, Jumat (06/7) pagi. Dalam amanahnya, presiden mengaku sulit mencari sosok seperti almarhum Lopa yang memiliki kesederhanaan, kejujuran, dan kesungguhan dalam menjalankan tugas.
Jenazah Lopa yang tiba di TMP Kalibata pukul 08.30 WIB disambut pasukan militer. Sejumlah pejabat pemerintahan ikut sebagai pengiring jenazah. Selang 30 menit kemudian, Presiden Abdurrahman Wahid tiba di lokasi. Didahului tembakan salvo satu kali, jenazah dimasukkan ke liang lahat pukul 09.20 WIB. Menteri Koordinator Bidang Politik, Sosial, dan Keamanan Jenderal TNI (purnawirawan) Agum Gumelar bertindak selaku inspektur upacara dalam pemakaman kenegaraan ini. Pelaksana Tugas Jagung Soeparman dan tiga Jaksa Agung Muda memegang empat sisi Bendera Merah Putih setinggi dada di sisi liang lahat. Suasana haru tampak saat keluarga diberi kesempatan terakhir menaburkan bunga.
Makam almarhum Lopa berdampingan dengan mantan Ketua Palang Merah Indonesia dan Direktur Utama Pertamina Ibnu Soetowo. Makam Lopa bernomor urut 100 sedang makam Ibnu bernomor 99. Di deretan makam itu juga bersemayam Jenderal Besar TNI Abdul Haris Nasution dengan nomor 98.
Di depan TMP Kalibata, sebanyak 100 orang anggota dari Lintas Organisasi untuk Pemberantasan Korupsi dan Kejahatan HAM (LOPA) membentangkan spanduk serta membagikan poster dan selebaran kepada para pelayat. Mereka mengucapkan terima kasih dan dukungan terhadap perjuangan Lopa. Mereka meminta pemerintah menetapkan hari berkabung nasional selama tujuh hari. Kendati begitu, aparat keamanan dari Pasukan Pengamanan Presiden melarang para pelayat membawa masuk spanduk dan poster yang dibagikan LOPA.
Satu jam sebelum diberangkatkan ke pemakaman, jenazah almarhum Lopa sempat disemayamkan di Gedung Kejaksaan Agung. Soeparman memimpin upacara penghormatan terakhir jenazah di Sasana Pradhana. Jenazah Lopa tiba di Kejagung pukul 07.15 WIB dari kediaman almarhum di kawasan Pondok Bambu, Jakarta Timur. Peti jenazah diusung sejumlah siswa Pendidikan Pembentukan Jaksa. Seluruh anggota keluarga almarhum hadir termasuk Hajjah Indrawulan, istri almarhum, beserta keempat putra dan tiga putri Lopa. Keluarga almarhum yang diwakili Basri Hasanuddin yang bertugas menyerahterimakan jenazah kepada Soeparman.
Dalam ucapan serah terima, Basri menyampaikan permohonan maaf atas kekhilafan almarhum selama hidupnya. Mereka juga meminta maaf atas berbagai tugas negara yang sedang diemban almarhum, namun belum sempat dituntaskan. "Karena keterbatasan manusiawilah, hasil maksimal belum bisa dicapai," kata Basri. Setelah upacara penghormatan terakhir, jenazah diusung menuju Masjid Baitul Adli di kompleks Kejagung untuk disalatkan. Selanjutnya, Soeparman menyerahkan jenazah kepada Garnizun Ibu kota yang diterima Menteri Kehakiman dan Hak Asasi Manusia Marsillam Simanjuntak. Dari situ, jenazah Lopa diberangkatkan tepat pukul 08.00 WIB menuju pemakaman TMP Kalibata.(COK/Tim Liputan 6 SCTV)
Jenazah Lopa yang tiba di TMP Kalibata pukul 08.30 WIB disambut pasukan militer. Sejumlah pejabat pemerintahan ikut sebagai pengiring jenazah. Selang 30 menit kemudian, Presiden Abdurrahman Wahid tiba di lokasi. Didahului tembakan salvo satu kali, jenazah dimasukkan ke liang lahat pukul 09.20 WIB. Menteri Koordinator Bidang Politik, Sosial, dan Keamanan Jenderal TNI (purnawirawan) Agum Gumelar bertindak selaku inspektur upacara dalam pemakaman kenegaraan ini. Pelaksana Tugas Jagung Soeparman dan tiga Jaksa Agung Muda memegang empat sisi Bendera Merah Putih setinggi dada di sisi liang lahat. Suasana haru tampak saat keluarga diberi kesempatan terakhir menaburkan bunga.
Makam almarhum Lopa berdampingan dengan mantan Ketua Palang Merah Indonesia dan Direktur Utama Pertamina Ibnu Soetowo. Makam Lopa bernomor urut 100 sedang makam Ibnu bernomor 99. Di deretan makam itu juga bersemayam Jenderal Besar TNI Abdul Haris Nasution dengan nomor 98.
Di depan TMP Kalibata, sebanyak 100 orang anggota dari Lintas Organisasi untuk Pemberantasan Korupsi dan Kejahatan HAM (LOPA) membentangkan spanduk serta membagikan poster dan selebaran kepada para pelayat. Mereka mengucapkan terima kasih dan dukungan terhadap perjuangan Lopa. Mereka meminta pemerintah menetapkan hari berkabung nasional selama tujuh hari. Kendati begitu, aparat keamanan dari Pasukan Pengamanan Presiden melarang para pelayat membawa masuk spanduk dan poster yang dibagikan LOPA.
Satu jam sebelum diberangkatkan ke pemakaman, jenazah almarhum Lopa sempat disemayamkan di Gedung Kejaksaan Agung. Soeparman memimpin upacara penghormatan terakhir jenazah di Sasana Pradhana. Jenazah Lopa tiba di Kejagung pukul 07.15 WIB dari kediaman almarhum di kawasan Pondok Bambu, Jakarta Timur. Peti jenazah diusung sejumlah siswa Pendidikan Pembentukan Jaksa. Seluruh anggota keluarga almarhum hadir termasuk Hajjah Indrawulan, istri almarhum, beserta keempat putra dan tiga putri Lopa. Keluarga almarhum yang diwakili Basri Hasanuddin yang bertugas menyerahterimakan jenazah kepada Soeparman.
Dalam ucapan serah terima, Basri menyampaikan permohonan maaf atas kekhilafan almarhum selama hidupnya. Mereka juga meminta maaf atas berbagai tugas negara yang sedang diemban almarhum, namun belum sempat dituntaskan. "Karena keterbatasan manusiawilah, hasil maksimal belum bisa dicapai," kata Basri. Setelah upacara penghormatan terakhir, jenazah diusung menuju Masjid Baitul Adli di kompleks Kejagung untuk disalatkan. Selanjutnya, Soeparman menyerahkan jenazah kepada Garnizun Ibu kota yang diterima Menteri Kehakiman dan Hak Asasi Manusia Marsillam Simanjuntak. Dari situ, jenazah Lopa diberangkatkan tepat pukul 08.00 WIB menuju pemakaman TMP Kalibata.(COK/Tim Liputan 6 SCTV)