Liputan6.com, Madiun: Desa Kedungbrubus, Madiun, Jawa Timur, yang dihuni 29 kepala keluarga hingga Sabtu (22/3) masih terendam banjir setinggi dada orang dewasa. Warga masih bertahan di pengungsian darurat, terutama ibu-ibu dan anak-anak. Lantaran kesulitan mendapatkan air bersih untuk keperluan memasak, para pengungsi terpaksa menggunakan air banjir.
Warga setempat menduga banjir bukan akibat curah hujan yang tinggi, melainkan dipicu penutupan pintu air Waduk Kedungbrubus yang baru dibangun Pemerintah Kabupaten Madiun. Ini dilakukan agar warga Kedungbrubus bersedia direlokasi. Namun, petugas Satkorlak bencana Pemkab Madiun membantah dugaan warga. Sayang, petugas yang menolak diwawancarai itu enggan menjelaskan asal genangan air yang merendam satu desa ini.
Polemik Kedungbrubus bermula saat Pemkab Madiun akan membangun Waduk Kedungbrubus dan meminta warga sekitar segera pindah. Sebanyak 29 kepala keluarga di wilayah itu menolak direlokasi. Pasalnya, ganti rugi dan relokasi yang diberikan dinilai tak sesuai. Mereka hanya mau pindah jika ditempatkan di Desa Notopuro yang lokasinya lebih strategis.
Banjir juga masih merendam Sampang, Madura, Jatim, hingga siang ini. Musibah itu akibat meluapnya Sungai Kemuning yang diperparah dengan arus kiriman dari daerah pegunungan di Utara Sampang, seperti Kecamatan Robatal, Omben, dan Kedundung. Ketinggian air di beberapa tempat yang kontur tanahnya rendah mencapai satu meter. Sedangkan di wilayah yang lebih tinggi, banjir mulai surut. Namun, banjir diperkirakan kembali naik pada petang nanti karena hujan terus mengguyur hulu Sungai Kemuning di Sampang Utara.
Kawasan lain di Jatim yang belum lepas dari rendaman banjir hingga siang ini adalah Jember. Empat desa yaitu Andongsari, Curah Nongko, Pondok Rejo, serta Wonoasri terendam setinggi lebih dari semeter sejak semalam. Banjir tahunan tersebut disebabkan beberapa anak sungai meluap menyusul hujan deras yang terus mengguyur. Selain hujan, banjir juga disebabkan gundulnya hutan lindung Merubetiri akibat pembalakan liar.
Sementara itu, banjir di Riau meluas. Setelah merendam wilayah Gunung Sahilan dan Siak Hulu, banjir merambat Pekanbaru. Sejumlah kendaraan terpaksa mengurangi laju kecepatan saat melintasi genangan air setinggi 30 sentimeter di salah satu ruas jalan di Pekanbaru. Luapan Sungai Siak ini juga menyebabkan puluhan rumah terkena banjir.
Banjir di Riau ini juga masih merendam ratusan desa di enam kabupaten. Banjir disebabkan tingginya curah hujan yang tak mampu ditampung Sungai Kampar, Rokan, Indragiri, dan Kuantan. Meski demikian, ribuan korban banjir di 230 desa hingga kini tetap bertahan dalam rumah. Sebagian besar dari mereka belum mendapat bantuan makanan dan tenda untuk mengungsi [baca: Banjir Rendam Ratusan Rumah di Pasuruan].
Adapun di Bandung, Jawa Barat, tiga kecamatan, yaitu Majalaya, Baleendah, serta Dayeuhkolot terendam banjir setinggi satu setengah meter akibat luapan Sungai Citarum menyusul hujan deras. Selain merendam ratusan rumah di sekitar bantaran Sungai Citarum, banjir juga menggenangi sejumlah ruas jalan penghubung desa. Menghadapi situasi ini, warga hanya bisa pasrah meski mengganggu aktivitas. Mereka rupanya sudah terbiasa dengan banjir yang menjadi langganan setiap musim hujan.(RMA/Tim liputan 6 SCTV)