Bhutto Tewas Ditembak, Rakyat Pakistan Menangis

Benazir Bhutto, pemimpin oposisi Pakistan, tewas ditembak setelah menyampaikan pidato kampanye di Rawalpindi, Kamis petang waktu setempat. Penembak Bhutto kemudian meledakkan diri sehingga menewaskan sedikitnya 20 orang.

oleh Liputan6Diterbitkan 28 Desember 2007, 00:07 WIB

Liputan6.com, Rawalpindi: Ternyata, Benazir Bhutto tewas setelah tertembak di leher dan dadanya. Pihak kepolisian menyatakan pemimpin oposisi Pakistan ini baru saja meninggalkan area kampanye sejauh 50 meter dengan mobilnya ketika tertembak. Pelakunya kemudian meledakkan diri dengan bom. Sebelumnya, Bhutto berkampanye di Rawalpindi, Pakistan, di depan ribuan pendukungnya [baca: Benazir Bhutto Tewas].

Wasif Ali Khan, anggota Pakistan People`s Party (partai yang dipimpin Bhutto) mengatakan Benazir Bhutto meninggal di Rumah Sakit Umum Rawalpindi, Kamis (27/12) pukul 18.16 waktu setempat. Adapun massa pendukung Bhutto yang marah berkumpul di depan rumah sakit. Mereka melampiaskan kemarahan dengan memecahkan pintu kaca unit gawat darurat rumah sakit tersebut. Sejumlah pendukung setia lainnya menangis sambil meneriakkan slogan-slogan mengecam Presiden Pervez Musharraf.

Tak lama kemudian, Nawaz Sharif, pemimpin oposisi Pakistan selain Bhutto, tiba di RS Rawalpindi. Di depan pendukung Bhutto, dia berjanji akan melanjutkan perjuangan wanita mantan Perdana Menteri Pakistan itu. Adapun Bhutto meninggalkan tiga anak, yakni Bilawal, Bakhtwar, dan Aseefa. Mereka adalah buah pernikahan Bhutto dengan Asif Ali Zardari.

Benazir Bhutto memang menjadi target bom bunuh diri dalam dua bulan terakhir. Sebelumnya pada 18 Oktober silam, ledakan bom juga mengguncang parade kepulangan Bhutto ke Karachi. Ini setelah dia diasingkan selama delapan tahun. Insiden itu menewaskan lebih dari 140 warga [baca: Korban Tewas di Karachi Masih Simpang Siur].

Sebagai salah seorang perempuan terkuat di dunia, kematian Benazir Bhutto sangat mengejutkan banyak kalangan, khususnya rakyat Pakistan. Mereka memang menantikan Bhutto kembali menduduki kursi Perdana Menteri Pakistan.

Benazir Bhutto lahir di Karachi, tahun 1953. Putri pasangan Zulfikar Ali Bhutto dan Nusrat Bhutto ini merupakan salah seorang wanita Pakistan yang cerdas. Sejak muda, Benazir Bhutto memang akrab dengan dunia politik Pakistan yang sarat dengan permainan kotor. Tahanan rumah, pengkhianatan, dan pembunuhan memang telah dikenal Benazir Bhutto sejak masih berusia 24 tahun.

Semua itu dihadapi Benazir Bhutto semenjak penangkapan ayahnya yang saat itu menjabat sebagai perdana menteri. Zulfikar Ali Bhutto dicopot dari jabatannya atas tuduhan korupsi dan konspirasi untuk menyingkirkan lawan politiknya. Namun pada akhirnya Bhutto tewas di tiang gatungan. Zulfikar kemudian digantikan oleh lawan politiknya, Zia Ulhaq.

Bak kata pepatah, buah jatuh tak jauh dari pohonnya, Benazir Bhutto pun akhirnya menapaki dunia politik Pakistan. Layaknya dinasti Nehru-Gandhi di India, Benazir pun membangun kembali dinasti Bhutto di kancah perpolitikan Pakistan.

Tahun 1988 adalah pencapaian pertama Benazir Bhutto. Partai Kekuatan Rakyat Pakistan atau PPP yang dipimpinnnya berhasil memenangi pemilu legislatif pertama di Pakistan sejak negara itu didirikan pada 1979. Dan pada usia 35 tahun, ia dilantik menjadi perdana menteri wanita pertama Pakistan. Berbagai langkah pembaruan pun diluncurkan. Antara lain pemberdayaan wanita dan reformasi Pakistan.

Sayangnya, belum lagi upaya itu membuahkan hasil, Benazir Bhutto pun harus menghadapi tuduhan korupsi, seperti yang pernah dihadapi ayahnya. Dia pun akhirnya dipecat dari jabatan perdana menteri pada tahun 1990. Kondisi serupa terulang pada tahun 1996, tiga tahun pascaterpilihnya kembali Benazir Bhutto sebagai perdana menteri. Keadaan ini memaksa ia mengasingkan diri ke luar negeri.

Kendati demikian, di mata rakyat Pakistan, Benazir Bhutto tetaplah seorang tokoh yang populis. Kepulangannya ke Pakistan, Oktober silam menjadi buktinya. Dia pun disambut hangat oleh sebagian besar rakyat Pakistan. Mereka melihat Benazir Bhutto sebagai sosok pemimpin yang mampu menggantikan Presiden Pervez Musharraf yang dinilai sewenang-wenang.

Kini, Benazir Bhutto telah pergi, sebelum berhasil menuntaskan perjuangan untuk mengembalikan kehidupan demokrasi di Pakistan, serta membersihkan negerinya dari kelompok teroris. Dan bagi pendukungnya, Benazir Bhutto meninggalkan kenangan akan seorang pemimpin yang pemberani dan teguh dalam memperjuangkan cita-citanya. Tentunya, demi rakyat Pakistan yang dicintainya. Selamat jalan Benazir Bhutto, air mata rakyat Pakistan dan dunia turut mengiringimu.(ANS/Tim Liputan 6 SCTV)


POPULER

Berita Terkini Selengkapnya