Liputan6.com, Jakarta: Teater Koma menggelar pentas seni bertajuk Kala di kawasan Kafe Tenda Semanggi, Jakarta Selatan, Senin (11/6) malam. Pentas itu sekaligus dimaksudkan sebagai pamitan terhadap penonton Ibu Kota. Sebab, kelompok pimpinan Nano Riantiarno itu akan menggelar pertunjukan keliling di sebelas kota di Pulau Jawa. Pertunjukan yang direncanakan berlangsung sejak 15 Juni hingga 1 Juli mendatang adalah untuk mendekatkan diri kepada para penikmat teater di daerah.
Menurut Nano, pentas keliling itu berawal dari Surabaya, Jawa Timur. Di kota ini, mereka berencana tampil di Kampus Institut Teknologi Surabaya (ITS). Selanjutnya secara berturut-turut, Teater Koma akan mengunjungi Malang, Kudus, Semarang, Solo, Yogyakarta, Purwokerto, Tegal, Cirebon, dan Sukabumi. Pertunjukan akan berakhir di Bandung, Jawa Barat. Sementara mengenai naskah cerita, Nano menjelaskan, pemilihan tajuk Kala untuk pentas keliling karena waktu pementasan relatif lebih singkat ketimbang pertunjukan sebelumnya. Bahkan, dengan durasi satu setengah jam, ia hanya membutuhkan 15 pemain.
Untuk mementaskan Kala, yang menceritakan keserakahan yang membawa bencana, Nano memilih tempat pertunjukan umum. Misalnya, alun-alun, lapangan pasar, halaman balai desa, lapangan parkir, dan kampus. Karena itu, para penonton tak dikenakan tarif masuk. Uniknya, di akhir babak pertama, para pemain akan mendatangi penonton untuk sumbangan sekadarnya. Nantinya, uang sumbangan itu akan diberikan kepada para petugas setempat yang membantu pementasan, misalnya petugas kebersihan.
Tak tanggung-tanggung, Nano berencana membuat panggung di atas truk kontainer dengan modifikasi. Sementara semua properti pertunjukan akan diangkut truk yang lain.(ANS/Sentot Noerachman dan Margo Mulyo)
Menurut Nano, pentas keliling itu berawal dari Surabaya, Jawa Timur. Di kota ini, mereka berencana tampil di Kampus Institut Teknologi Surabaya (ITS). Selanjutnya secara berturut-turut, Teater Koma akan mengunjungi Malang, Kudus, Semarang, Solo, Yogyakarta, Purwokerto, Tegal, Cirebon, dan Sukabumi. Pertunjukan akan berakhir di Bandung, Jawa Barat. Sementara mengenai naskah cerita, Nano menjelaskan, pemilihan tajuk Kala untuk pentas keliling karena waktu pementasan relatif lebih singkat ketimbang pertunjukan sebelumnya. Bahkan, dengan durasi satu setengah jam, ia hanya membutuhkan 15 pemain.
Untuk mementaskan Kala, yang menceritakan keserakahan yang membawa bencana, Nano memilih tempat pertunjukan umum. Misalnya, alun-alun, lapangan pasar, halaman balai desa, lapangan parkir, dan kampus. Karena itu, para penonton tak dikenakan tarif masuk. Uniknya, di akhir babak pertama, para pemain akan mendatangi penonton untuk sumbangan sekadarnya. Nantinya, uang sumbangan itu akan diberikan kepada para petugas setempat yang membantu pementasan, misalnya petugas kebersihan.
Tak tanggung-tanggung, Nano berencana membuat panggung di atas truk kontainer dengan modifikasi. Sementara semua properti pertunjukan akan diangkut truk yang lain.(ANS/Sentot Noerachman dan Margo Mulyo)