Tanah Minahasa secara umum berwujud pegunungan yang memanjang dari ujung utara sampai ke selatan. Selain pantai, ada banyak gunung berapi yang bertengger membentengi Minahasa. Di antaranya Gunung Duasudara, Lokon, Mahawu, dan Masarang. Masih ada gunung besar lain, yakni Kililonde, Tonderukan, Sinonsayang, dan Kalabat. Namun, Gunung Soputan yang paling menjulang.
Kondisi alam pegunungan itu jelas mempengaruhi cara hidup orang Minahasa. Pada umumnya, masyarakat asli Minahasa dengan kaum subetnisnya, sejak turun-temurun hingga saat ini hidup bertani dan berternak. Kendati ada pula yang berdagang. Sementara sebagian lainnya masih tetap menggantungkan hidup sehari-hari dari danau dan laut, sebagai nelayan.
Advertisement
Masyarakat Minahasa pun tak bisa melupakan Watu Pinawetengan atau Batu Pinawetengan. Batu ini adalah sebuah batu prasasti. Bagi masyarakat Minahasa purba, leluhur orang Minahasa sekarang, Watu Pinawetengan merupakan batu suci. Betapa tidak, niat damai kaum subetnis yang amat beragam di Tanah Minahasa, seperti Tonsea, Tombulu, Tontemboan, Tondano, Tonsawang Posakan, Bantik, dan Siauw, terpatri di Watu Pinawetengan.
Menurut budayawan Minahasa Jessy Wenas, perjalanan merunut keberadaan Watu Pinawetengan berawal dari Kekaskasen Tomohon. Penelusuran keberadaan batu suci orang Minahasa ini merujuk pada tulisan misionaris asal Jerman, J.G.F Riedel dan J.A.T. Schwarz, yang diterbitkan pada tahun 1870.
Penelusuran Riedel dan Schwarz sampai ke wilayah Sonder, Minahasa. Watu Pinawetengan berada di sebuah bukit di kawasan Gunung Tonderukan. Dari catatan Riedel dan Schwarz pada tahun 1862 dan bukti-bukti sejarah lisan leluhur Minahasa, Watu Pinawetengan berasal dari era abad VII Masehi. Hanya saja, upaya penggalian baru diadakan pada tahun 1888.
Tak jauh dari Watu Pinawetengan ada Watu Tumatoa yang masih memiliki hubungan erat dengan Watu Pinawetengan. Namun, peninggalan sejarah tak akan memiliki makna apa pun. Terutama bila manusia kini tak mampu mencerna dan menyerap arti pembelajaran yang terkandung di dalamnya.
Kehidupan sehari-hari masyarakat sekitar Watu Pinawetengan di Tanah Minahasa yang luas memang teramat beragam. Bahkan, tradisi Katolik yang masuk sejak abad XVI atau sekitar tahun 1563, mampu mewarnai Minahasa. Adapun masuknya Kristen Protestan di kemudian hari, yang dibawa para serdadu Kongsi Dagang Belanda (Vereenigde Oostindische Compagnie) pada tahun 1666, ternyata dapat turut membaur.
Budaya dan tradisi Minahasa yang kental, keberadaan Katolik dan berkembang pesatnya Kristen Protestan hidup bersama saling berdampingan hingga ke sudut-sudut Tanah Minahasa. Warna-warni inilah yang menjadi lukisan sketsa nyata hingga hari ini. Begitu pula keberadaan Watu Pinawetengan sebagai sebuah prasasti sejarah peninggalan leluhur mendapat tempat tersendiri di dalam kehidupan masyarakat.
Namun, perbedaan pandangan dalam menyikapi makna keberadaan batu suci orang Minahasa ini kadang terjadi di kalangan penganut Kristen. Sekalipun demikian, keberadaan Watu Pinawetengan tetap mendapat tempat khusus di hati masyarakat Minahasa perantauan. Komitmen damai para leluhur Minahasa yang terpatri dalam sejarah batu suci tak hanya berhenti sebagai simbol romantisme historikal belaka.
Terlebih, memahami sejarah yang tertuang dalam suatu simbol memerlukan kedalaman dan kejernihan batin setiap pribadi. Dengan arti lain, simbol-simbol peninggalan sejarah seharusnya bisa membuat manusia lebih bijak dalam bersikap, terutama saat menjalani kehidupan. Dan bukan justru membelenggu manusia ke dalam romantisme kehidupan masa lampau yang tidak produktif.(ANS/Tim Potret SCTV)