Di Jalan Tukad Bilok di Kota Denpasar, Bali, misalnya. Sepanjang jalan tersebut, Selasa (26/6) kemarin, tampak indah memikat. Di sisi kiri dan kanannya berjajar rapi bambu berhias yang biasa disebut penjor. Inilah gambaran umum di hampir seluruh Pulau Dewata, satu hari menjelang Hari Raya Galungan [baca: Mengusir Roh Jahat dengan Tradisi Memenjor].
Setiap warga umat Hindu di Bali, tentu menyempatkan diri membuat penjor guna menyambut Galungan. Keluarga Wayan Yuda, umpamanya. Seluruh anggota keluarganya mengeluarkan ilmu menghias yang seolah identik dengan warga Pulau Dewata.
Advertisement
Sebuah penjor haruslah memiliki lima unsur. Pertama, janur atau daun kelapa yang masih muda. Kemudian hasil bumi atau palawija, umbi-umbian, buah-buahan dan sampian. Adapun pembuatan penjor menjelang Galungan adalah salah satu tradisi untuk memohon kesejahteraan. Dan dengan biaya sekitar satu juta rupiah, sebuah penjor siap didirikan. Banyak hal yang tersirat di permukaan hiasan ini. Selain makna religi, penjor yang menghiasi lingkungan bisa bermakna kebersamaan dan keindahan.(ANS/Aries Wicaksono)