Menyambut Hari Raya Galungan dengan <i>Penjor</i>

Satu hari menjelang perayaan Galungan, warga Bali menghias rumah dan lingkungan dengan penjor. Bambu lengkung berhiaskan janur itu menyimbolkan permohonan kesejahteraan.

oleh Liputan6Diterbitkan 27 Juni 2007, 06:04 WIB
Liputan6.com, Denpasar: Sehari menjelang Hari Raya Galungan, umat Hindu di Bali selalu menghias rumah dan lingkungan dengan penjor sebagai simbol permohonan kesejahteraan. Penjor adalah bambu lengkung berhiaskan daun kelapa muda atau janur yang dibentuk menjadi ornamen-ornamen menarik.

Di Jalan Tukad Bilok di Kota Denpasar, Bali, misalnya. Sepanjang jalan tersebut, Selasa (26/6) kemarin, tampak indah memikat. Di sisi kiri dan kanannya berjajar rapi bambu berhias yang biasa disebut penjor. Inilah gambaran umum di hampir seluruh Pulau Dewata, satu hari menjelang Hari Raya Galungan [baca: Mengusir Roh Jahat dengan Tradisi Memenjor].

Setiap warga umat Hindu di Bali, tentu menyempatkan diri membuat penjor guna menyambut Galungan. Keluarga Wayan Yuda, umpamanya. Seluruh anggota keluarganya mengeluarkan ilmu menghias yang seolah identik dengan warga Pulau Dewata.

Sebuah penjor haruslah memiliki lima unsur. Pertama, janur atau daun kelapa yang masih muda. Kemudian hasil bumi atau palawija, umbi-umbian, buah-buahan dan sampian. Adapun pembuatan penjor menjelang Galungan adalah salah satu tradisi untuk memohon kesejahteraan. Dan dengan biaya sekitar satu juta rupiah, sebuah penjor siap didirikan. Banyak hal yang tersirat di permukaan hiasan ini. Selain makna religi, penjor yang menghiasi lingkungan bisa bermakna kebersamaan dan keindahan.(ANS/Aries Wicaksono)

POPULER

Berita Terbaru

    Berita Terkini Selengkapnya