Arbi Sanit: Tak Etis Menarik Lagi Duit Setoran

Pengamat politik Arbi Sanit menilai tidak etis cawagub meminta kembali uang karena gagal diusung partai politik. Sementara itu, dua kandidat gubernur Fauzi Bowo dan Adang Daradjatun sibuk mencari dukungan.

oleh Liputan6Diterbitkan 17 Juni 2007, 18:07 WIB
Liputan6.com, Jakarta: Fauzi Bowo memang sudah memilih Prijanto menjadi calon wakil gubernurnya. Namun, pencalonannya dalam Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) DKI Jakarta masih menyisakan masalah bagi sejumlah cawagub yang gagal mendampinginya. Sejumlah cawagub yang gagal mengaku akan menarik balik duit yang sudah disetorkan ke partai politik.

Keinginan itu lantas dikomentari Arbi Sanit. Pengamat politik dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia ini menyesalkan ada cawagub hendak meminta balik duit setoran yang telah diserahkan ke parpol. Menurut Arbi, hal itu adalah harga yang harus dibayar untuk mencapai kekuasaan. "Tidak punya pengalaman, tidak punya kapabilitas, hanya uang saja yang dipunya. Lalu merasa dirinya orang hebat," ucap Arbi di Jakarta, baru-baru ini.

Adalah Slamet Kirbiantoro yang sudah menyetor duit ke Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan, tapi batal menjadi cawagub [baca: Calon Pendamping Fauzi Bowo Segera Diumumkan]. Hanya saja, mantan Panglima Daerah Militer Jaya itu mengaku sedang menenangkan diri dan tak mau terlibat polemik lebih jauh. Di lain pihak, relawan Perjuangan Demokrasi mendesak agar pengurus pusat PDIP segera membentuk komisi disiplin partai. Ini penting buat memeriksa oknum PDIP yang diduga terlibat politik uang.

Boleh dibilang, main setor duit saat pencalonan pilkada bagaikan buah simalakama. Bila menang, sang calon akan berpikir untuk balik modal sehingga cenderung koruptif. Sebaliknya, jika kalah duit hilang, kekuasaan pun tak tergapai.

Ajang pilkada baru akan digelar pada Agustus mendatang, tapi setiap hari yang dilewati agaknya teramat berharga bagi para kandidat pemimpin tertinggi Jakarta. Masa kampanye belum dimulai, namun mencari simpati rakyat terus digencarkan.

Fauzi Bowo, misalnya. Di tengah harga minyak goreng yang meroket, ia muncul dengan paket sembilan bahan makanan pokok (sembako) murah di kawasan Menteng Atas, Jakarta Selatan. Tentu saja paket itu disambut antusias warga setempat. Namun, Fauzi Bowo atau akrab disapa Foke yang dalam pilkada bersemboyan "Jakarta untuk Semua" menyatakan bagi-bagi sembako ini bukan prakarsanya, melainkan rasa kesetiakawanan sosial dari warga mampu.

Dua hari sebelumnya, calon gubernur atau cagub lainnya, Adang Daradjatun, menemui pedagang Tanahabang, Jakarta Pusat. Pedagang yang selama ini memprotes penggusuran pasar tempat mereka mencari nafkah seakan menemukan sosok pahlawannya. Harapan mereka pun ditaruh di pundak mantan Wakil Kepala Polri itu.

"Ayo Benahi Jakarta". "Jakarta untuk Semua". Warga tak peduli semboyan apa pun yang diusung setiap calon. Terpenting adalah janji-janji cagub betul direalisasikan ketika menjabat. Bukan sekadar pemikat untuk mencari suara kemenangan.(ANS/Tim Liputan 6 SCTV)

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya