Sejak proyek pembangunan Jalan Ladia Galaska pada tahun 2002, protes bermunculan dari kalangan lembaga swadaya masyarakat dan para pencinta lingkungan. Ini dianggap merusak lingkungan di kawasan hutan maupun Gunung Leuser [baca: Leuser, Riwayatmu Kini]. Penolakan antara lain dilontarkan pihak Taman Nasional Gunung Leuser dan Yayasan Leuser Internasional.
Namun di pihak lain, keberadaan jalan tersebut menjadi impian warga yang tinggal di pedalaman Aceh. Meskipun longsor dan banjir bandang berpotensi terjadi di sini. Dambaan warga ini terkait sulitnya warga menempuh perjalanan, akibat tidak tersedianya jalan yang memadai. Misalnya, warga harus melewati jembatan gantung untuk bisa melalui sungai.
Advertisement
Pembangunan Jalan Ladia Galaska memang menimbulkan dilema. Di satu sisi, ribuan warga memang membutuhkan sarana jalan. Namun di sisi berbeda, kerusakan lingkungan yang parah bisa terjadi.(REN/Fery Effendi)