Laboratorium Sejarah Sukarno di Brastagi dan Parapat

Panitia haul Bung Karno akan menjadikan rumah pengasingan di Brastagi dan Parapat sebagai laboratorium sejarah kebangsaan. Kondisi rumah tersebut kini sangat memprihatinkan.

oleh Liputan6Diterbitkan 04 Juni 2001, 16:50 WIB
Liputan6.com, Brastagi: Panitia peringatan 100 tahun haul Bung Karno baru-baru ini sepakat menjadikan rumah pengasingan di Brastagi dan Parapat sebagai laboratorium sejarah kebangsaan. Soalnya, banyak generasi muda tidak mengetahui bahwa proklamator kemerdekaan RI tersebut pernah diasingkan pemerintah Hindia Belanda di dua rumah tersebut.

Sebelumnya, Pemda Sumut telah menjadikan rumah pengasingan yang berlokasi di Desa Lau Cum Ba, Brastagi, Tanah Karo sebagai pesanggrahan tamu negara. Selain itu, rumah yang terletak persis di bibir Danau Toba itu juga termasuk salah satu objek tujuan wisata. Kini, panitia yang dibentuk Pemerintah Daerah Sumatra Utara juga bermaksud menyelamatkan kembali sisa-sisa laboratorium sejarah dan obyek wisata sejarah di Sumut itu. Sebab, kondisi rumah pengasingan Bung Karno tersebut kini sangat memprihatinkan. Padahal, bangunan yang tampak lapuk di makan zaman itu pernah menjadi saksi perjuangan Bung Karno dari awal Juni hingga Agustus 1948.

Pemerintah Hindia Belanda awalnya menahan Ir. Sukarno di Brastagi selama 23 hari. Penahanan itu dilanjutkan di rumah bergaya Eropa di Kota Parapat. Bung Karno ditawan dalam bangunan berlantai dua tersebut selama satu setengah bulan. Sebangian peninggalan Bung Karno masih tersimpan utuh di rumah tersebut. Di antaranya, ruang dan tempat tidur, kursi tamu ukir, beberapa lukisan seperti potret putri Bali dan pemandangan alam, koleksi buku serta peralatan dapur.(HFS/Chaerul Dharma dan Cuk Arbianto)

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya