Liputan6.com, Virginia: Cho Seung-hui, mahasiswa asal Korea Selatan telah menunjukkan tanda-tanda gangguan mental sebelum melepaskan tembakan yang menewaskan puluhan mahasiswa di Universitas Teknologi Virginia, Amerika Serikat. Seorang dosen Fakultas Sastra Inggris, Lucinda Roy pernah menyarankan pelaku untuk mendatangi konseling.
Lucinda menyuruh mengikuti konseling karena melihat kondisi mental Cho terganggu. Perilaku pria berusia 23 tahun ini juga dinilai mengganggu teman-teman sekelasnya. Lucinda juga menemukan sejumlah tulisan berisi amarah mahasiswa sastra Inggris terhadap keadaan di lingkungan sekitar. Tulisan itu lalu diserahkan pada para petinggi Universitas Teknologi Virginia.
Sementara itu pemilik toko senjata, John Merkell mengakui Cho membeli pistol sembilan milimeter beserta pelurunya bulan silam. Polisi menemukan toko Markell melalui bukti pembayaran yang ditemukan di kamar Cho. Dari bukti pembayaran diketahui senjata diperoleh Cho secara legal dan seharga lebih US$ 500. Merkell mengaku tidak mau bertanggungjawab atas insiden ini.
Hingga kini, polisi masih menyelidiki motif penembakan yang dilakukan Cho. Sejumlah bukti yang bermunculan tak cukup membuktikan alasan Cho melakukan pembantaian. Temuan sementara, Cho marah kepada anak-anak orang kaya, kemewahan berlebihan, dan para pemimpin agama [baca: Motif di Balik Aksi Seung-hui Belum Diketahui].(JUM)
Lucinda menyuruh mengikuti konseling karena melihat kondisi mental Cho terganggu. Perilaku pria berusia 23 tahun ini juga dinilai mengganggu teman-teman sekelasnya. Lucinda juga menemukan sejumlah tulisan berisi amarah mahasiswa sastra Inggris terhadap keadaan di lingkungan sekitar. Tulisan itu lalu diserahkan pada para petinggi Universitas Teknologi Virginia.
Sementara itu pemilik toko senjata, John Merkell mengakui Cho membeli pistol sembilan milimeter beserta pelurunya bulan silam. Polisi menemukan toko Markell melalui bukti pembayaran yang ditemukan di kamar Cho. Dari bukti pembayaran diketahui senjata diperoleh Cho secara legal dan seharga lebih US$ 500. Merkell mengaku tidak mau bertanggungjawab atas insiden ini.
Hingga kini, polisi masih menyelidiki motif penembakan yang dilakukan Cho. Sejumlah bukti yang bermunculan tak cukup membuktikan alasan Cho melakukan pembantaian. Temuan sementara, Cho marah kepada anak-anak orang kaya, kemewahan berlebihan, dan para pemimpin agama [baca: Motif di Balik Aksi Seung-hui Belum Diketahui].(JUM)