Temuan sementara, Seung-hui kecewa dengan keadaan. Mahasiswa sastra Inggris berusia 23 tahun itu marah besar pada anak-anak orang kaya, kemewahan berlebihan, dan para pemimpin agama [baca: Penembak di Virginia Marah pada Anak Kaya].
Jamal Albarghouti, mahasiswa Universitas Teknologi Virginia, sempat merekam tindakan biadab Seung-hui. Dia tampak melepaskan tembakan membabi buta sehingga 30 orang tewas dan 26 lainnya cedera sebelum akhirnya bunuh diri [baca: Kampus Universitas Teknologi Virginia Diberondong Tembakan].
Advertisement
Di Medan, Sumatra Utara, keluarga Tohom Lumban Toruan kecewa dengan Kedutaan Besar Indonesia di AS. KBRI sempat menyatakan tak ada mahasiswa asal Indonesia yang menjadi korban. Padahal tak demikian kenyataannya. Salah satu keluarga mereka, Partahi Mamora Halomoan Lumban Toruan, buktinya tewas dalam insiden itu.
Tohom mengaku, sempat lega setelah membaca berita tak ada warga Indonesia yang tewas dalam penembakan itu. Tapi beberapa jam kemudian berita duka sampai di telinganya. "KBRI di Washington mengabarkan Partahi tewas," kata warga Kompleks Eks Kowilhan Medan, itu.
Ironisnya, Departemen Luar Negeri menganggap enteng kekecewaan keluarga Partahi. "Departemen Luar Negeri telah memberitahu pihak keluarga bahwa Partahi menjadi salah satu korban penembakan. Tentu saja mereka berduka. Tapi kami juga memberitahu mereka, kami siap memfasilitasi pemulangan jenazahnya ke Indonesia," kata Kristiarto Legowo, juru bicara Deplu.
Selain di Medan, kepedihan juga menerpa keluarga Letnan Kolonel Sugiarti, ibu tiri Partahi di Semarang, Jawa Tengah. Wanita yang berdinas di Pomdam IV Diponegoro itu tak henti menangisi nasib putranya.
Partahi Mamora adalah mahasiswa S-3 di Universitas Teknologi Virginia. Lelaki 34 tahun itu sudah tiga tahun belajar di AS dan tengah menyelesaikan disertasi doktor.(ICH/Tim Liputan 6 SCTV)