Saksi yang memberi keterangan seputar kejadian antara lain kepala unit P3D, kepala unit provos Polwiltabes Semarang, dan beberapa staf administrasi. Sumber di kepolisian mengatakan, sebelum kejadian, seorang saksi mendengar suara gebrakan meja yang sangat keras disusul beberapa kali bunyi letusan senjata.
Sejauh ini sudah ada sekitar enam sampai tujuh saksi yang diperiksa. Namun, saksi Ajun Inspektur Satu Polisi Titik yang sempat disandera oleh Brigadir Satu Polisi Martinus Hance Kristianto, si penembak Wakapolwiltabes Semarang, belum diperiksa karena masih dalam perawatan di Rumah Sakit Bhayangkara [baca: Wakapolwiltabes Semarang Tewas Ditembak Anak Buahnya].
Advertisement
Hari ini, pelayanan umum di Polwiltabes Semarang berjalan normal. Namun, penjagaan untuk pengunjung diperketat. Pengunjung yang sebelumnya bebas keluar masuk Polwiltabes Semarang, kini wajib meninggalkan kartu identitas di penjagaan.
Siang ini, jenazah Briptu Martinus Hance Kristianto dikebumikan di Taman Pemakaman Umum Kedungmundu, Semarang. Sebelum pemakaman, berlangsung misa yang dipimpin seorang romo di asrama polisi Kabluk, Gayemsari, Semarang Timur.
Misa dihadiri keluarga dan tetangga anggota Gegana Brigade Mobil ini. Beberapa polisi dan rekan Hance juga hadir. Namun, tidak ada upacara resmi kemiliteran untuk melepas jenazah Hance.
Penembakan di ruang kerja Wakapolwiltabes Semarang usai apel pagi, Rabu, diduga terjadi karena Briptu Hance menolak dimutasi ke Kendal, Jateng. Dia mempertanyakan alasan pemindahan itu.
Kasus ini mendapat perhatian Mahfud M.D, anggota Komisi I DPR. Anggota Dewan dari Fraksi Kebangkitan Bangsa ini melihat penembakan ini terjadi akibat struktur hierarkis yang ketat dalam hubungan antaranggota Polri dan para pimpinannya. "Hubungan antara atasan dan bawahan harus jelas dan terbuka. Jangan sampai bawahan merasa tertekan dengan tindakan atasan," kata Mahfud.
Mantan Menteri Pertahanan ini meminta agar Kepala Polri Jenderal Polisi Sutanto segera melakukan penertiban dan perubahan kultur yang dimulai sejak perekrutan anggota Polri. Dia menegaskan, bila pola manajemen dan pembinaan sumber daya manusia Polri tidak diperbaiki, insiden Semarang akan terus terulang.
Penembakan antara sesama anggota Polri sudah terjadi beberapa kali. SCTV mencatat ada tiga kasus penembakan sesama polisi yang di antaranya merenggut nyawa. Masalah utama insiden dalam tubuh korps berseragam cokelat ini terkait dengan mental anggota Polri.
Pada 28 Juli 2006, Briptu Marto Lawani ditembak mati oleh atasannya Iptu Koko Arianto Wardani, Kepala Kepolisian Sektor Talaga Gorontalo. Pemeriksaan pelaku dan saksi menunjukkan ada unsur kesengajaan dalam kasus ini [baca: Ketika Pelor Kapolsek Tembak Anak Buah].
Versi lain menyebutkan saat kejadian Koko Arianto sedang bermain-main dengan senjatanya dan tanpa disangka peluru dari pistolnya bersarang di kepala Marto. Koko depresi berat karena Marto adalah teman baiknya.
Tanggal 13 November 2006, anggota Kepolisian Sektor Sayuk, Demak, Jateng, I Gede Mustika ditembak rekannya Brigadir Kepala Polisi Nugroho pada sebuah acara. Nugroho yang sedang mabuk sebenarnya bermaksud melerai dua pemuda yang berkelahi. Namun, peluru dari pistolnya justru mengarah ke tubuh Mustika [baca: Lagi, Polisi Mabuk Menembak Rekan].
Sementara pada 27 April 2005, Inspektur Satu Polisi Sugeng menembak Kepala Samapta Kepolisian Resor Jombang Ajun Komisaris Polisi Ibrahim Gani, sebelum apel pagi. Perwira muda yang mengaku tidak bisa tidur empat hari itu tiba-tiba masuk ke ruang Samapta dan mengambil pistol Ibrahim. Tanpa ba-bi-bu dia menembak dada Ibrahim dua kali. Setelah itu Sugeng menembak kepalanya sendiri [baca: Perwira Polisi Menembak Kasat Samapta]. Mantan Kepala Unit Kecelakaan Polres Jombang ini sempat dinonaktifkan diduga karena stres.
Dari sejumlah kejadian di atas, termasuk insiden Semarang, Markas Besar Polri akan lebih memperketat proses seleksi dan tes psikologi anggota polisi. Jenjang kenaikan pangkat pun akan lebih diperketat [baca: Jenazah Lilik Purwanto Dimakamkan].
Kepala Divisi Hubungan Masyarakat Polri Inspektur Jenderal Polisi Sisno Adiwinoto mengatakan, Polri sangat prihatin atas semua kasus yang berkaitan dengan anggotanya. Sisno mengatakan polisi juga manusia yang mempunyai masalah. Meski begitu, polisi seharusnya dapat menjaga kondisi psikologisnya karena dalam menjalankan tugas mereka dibekali senjata yang dapat mencelakakan orang lain jika dipakai tidak semestinya.(TNA/Tim Liputan 6 SCTV)