Sisa Masalah dari Gempa Bumi Sumbar

Warga Sumbar sepertinya masih harus tetap waspada karena bencana sususlan akibat gempa bumi sewaktu-waktu dapat terjadi. Bekas lokasi gempa akan dijadikan lahan pertanian.

oleh Liputan6Diterbitkan 11 Maret 2007, 19:15 WIB
Liputan6.com, Tanah Datar: Gempa yang terjadi di Sumatera Barat hingga Ahad (11/3), masih menyisakan banyak kerusakan dan warga yang belum mendapat bantuan. Luasnya wilayah yang terkena dampak gempa menyulitkan distribusi bantuan terutama ke wilayah pelosok. Selain itu gempa juga membuat banyak retakan tanah di wilayah perbukitan sehingga warga khawatir terjadi bencana tanah longsor.

Di Nagari Salimpau, Kabupaten Tanah Datar, ratusan rumah rusak akibat gempa. Hampir sebagain besar rumah tidak bisa ditempati lagi karena rusak berat. Hingga saat ini warga Salimpau menginap di tenda darurat karena kurangnya bantuan untuk tempat tinggal. Mereka sangat membutuhkan bantuan berupa material bangunan guna membangun kembali tempat tinggal yang rusak berat.

Sedangkan bantuan lain berupa alat kesehatan, obat-obatan dan makanan sudah tiba karena mudah dibawa. Namun bantuan berupa material bangunan tidak bisa diangkut karena wilayah itu cukup jauh dari pusat kota dan sulit di tempuh dengan kendaraan. Selain merusak ratusan rumah sebuah masjid dan dua sekolah juga roboh. Akibatnya proses belajar mengajar terganggu.

Derita warga Sumbar tampaknya belum akan hilang dalam waktu dekat. Setelah dihantam gempa bumi, kini warga propinsi itu diperingatkan agar waspada terhadap bencana alam lainnya seperti tanah longsor, letusan gunung api dan gempa bumi dasar samudera.

Dinas Pertambangan dan Energi Propinsi Sumbar menyatakan gempa bumi yang terjadi Selasa lalu bisa memicu munculnya bencana alam yang lain. Pasalnya gempa yang terjadi pada segmen Sumani dan segmen Sianok di patahan aktif Sumatra berdampak pada keaktifan gunung api yang dilewatinya.

Menurut ahli geologi Ade Edwar Darwin ancaman lain berupa longsoran bisa terjadi di daerah bekas lokasi gempa. Pantauan SCTV atas Gunung Talang juga menunjukkan adanya peningkatan aktivitas. Sampai kemarin sudah terjadi ratusan kali gempa vulkanik dan letusan kecil. Walau demikian warga masih beraktivitas seperti biasa walau sebagian mengaku merasa cemas.

Menanggapi hal itu Gubernur Sumbar Gamawan Fauzi meminta bupati dan walikota menata kembali pembangunan di jalur patahan Sumatera ini. Selain itu ia juga meminta bupati dan walikota tidak mengeluarkan izin bagi bangunan yang didirikan di atas lokasi bencana.

Gempa bumi yang terjadi Selasa lalu berasal dari gerakan patahan Sumatra dari segmen Sumani dan segmen Sianok. Segmen Sumani panjangnya 60 kilometer dari Talang, Kabupaten Solok hingga Batipuh di Kabupaten Tanah Datar. Sedangkan segmen Sianok panjangnya 90 kilometer yang terbentang dari Batipuh, Kabupaten Tanah Datar hingga Palupuh, Kabupaten Agam. Kedua segmen ini sebelumnya juga pernah aktif bersamaan pada tanggal 4 Agustus 1926. Bekas gempa itu nantinya akan dijadikan lahan pertanian.(YYT/Tim Liputan 6 SCTV)

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya