Warga Langkat Mengungsi di Tempat Ibadah

Mereka mengungsi dengan bekal seadanya karena tak sempat menyelamatkan harta benda setelah ketinggian air terus meningkat. Warga melaporkan 14 korban hilang.

oleh Liputan6Diterbitkan 23 Desember 2006, 13:01 WIB
Liputan6.com, Langkat: Sebagian besar korban banjir di delapan kecamatan di Kabupaten Langkat, Sumatra Utara mengungsi di sejumlah tempat ibadah. Warga terpaksa meninggalkan rumah setelah banjir makin tinggi merendam rumah mereka. Demikian hasil pantauan SCTV di Langkat, baru-baru ini.

Warga Desa Aras Napal, Besitang, contohnya. Mereka mengungsi ke sebuah musala desa berjarak sekitar satu kilometer dari tempat penampungan. Mereka mengaku tak sempat menyelamatkan harta benda karena ketinggian air terus meningkat [baca: Ribuan Rumah di Langkat Terendam Banjir].

Banjir di Langkat terjadi setelah tiga tanggul di Sungai Wampu dan Sungai Batang Harangan yang melintasi Desa Sekoci dan Pantai Buaya bobol. Akibatnya ratusan rumah di 12 kecamatan terendam air setinggi tiga meter. Lokasi terparah menimpa beberapa desa seperti Desa Aras Napal, Desa Sekoci, dan Bukit Kubu.

Banjir juga memutus transportasi yang menghubungkan Kota Langkat dan Aceh Tamiang. Sejauh ini jumlah korban masih simpang siur. Warga melaporkan 14 korban hilang, sebaliknya data pemerintah menyebutkan hanya delapan warga yang dinyatakan hilang.

Seperti warga Langkat, ribuan penduduk di Aceh Utara, Nanggroe Aceh Darussalam pun terpaksa mengungsi karena rumah mereka terendam air. Kebanyakan dari mereka mengungsi di pinggir jalan raya dan berlindung di dalam surau dengan bekal seadanya. Menurut data hampir 34 ribu jiwa atau 6.000 lebih kepala keluarga mengungsi.

Pemerintah setempat mendirikan dapur umum di sejumlah titik pengungsian buat memenuhi kebutuhan makanan warga. Sementara proses evakuasi terhadap warga yang terjebak banjir masih terus dilakukan. Tim penyelamat disebar ke sejumlah titik terutama di daerah paling parah terkena banjir seperti di Kecamatan Sawang, Lhok Sukon, Matang Kuli, dan Kecamatan Payo Bakong.

Banjir juga mengakibatkan jaringan telepon tak berfungsi. Sedangkan lalu lintas yang menghubungkan Sumut dan Aceh belum bisa dilalui akibat ketinggian air yang menggenangi ruas jalan di daerah Aceh Tamiang cukup tinggi.

Air juga menggenangi sebagian besar daerah di Pekanbaru, Riau. Selain menggenangi sebagian kota di Pekanbaru, genangan air di Riau mengakibatkan jalur Riau-Tapanuli Selatan putus. Diperkirakan banjir belum akan surut karena hujan diprediksi masih akan turun.

Banjir di Pekanbaru diawali hujan deras yang turun selama tiga hari. Anak Sungai Kemuning tak mampu menampung curahan air hujan. Kabupaten Rokan Hulu dan Hilir paling parah terendam air. Banjir sebelumnya pun merendam kawasan Buluh Cina.

Selain curah hujan, banjir meluas lantaran kerusakan lingkungan di sepanjang aliran sungai akibat penebangan liar dan pembukaan perkebunan kelapa sawit. Di samping menyebabkan kerugian materi, banjir di Riau telah merenggut nyawa seorang bocah berusia 11 tahun. Jasad bocah kelas lima sekolah dasar itu di anak Sungai Kemuning.

Hujan deras yang mengguyur kawasan Bandung Selatan, Jawa Barat membuat arus Sungai Citarum meluap. Namun luapan air tak separah hari-hari sebelumnya. Pantauan SCTV, luapan Sungai Citarum terjadi di beberapa lokasi seperti di daerah Parunghalang, Andir.

Puluhan rumah di Parunghalang sempat terendam antara 50 hingga 100 sentimeter. Selain merendam puluhan rumah, jalan desa yang melintasi kawasan tersebut pun tak luput dari genangan air sehingga mengganggu pengguna lalu lintas.

Sukaesih, warga setempat, mengatakan selama ini daerah tempat tinggalnya memang menjadi langganan banjir. Perempuan yang tinggal bersama anak cucunya ini tak bisa berbuat apa-apa selain bertahan. Pasalnya rumah yang saat ini dia tempati adalah satu-satunya harta miliknya sekeluarga.(ICH/Tim Liputan 6 SCTV)

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya