Liputan6.com, Jakarta: Kepala Pelaksana Harian Badan Narkotika Nasional (BNN) Komisaris Jenderal Polisi I Made Mangku Pastika memastikan, bubuk putih yang ditemukan di rumah Ferry Surya Prakasa pada pengerebekan Kamis silam, bukan narkotik dan obat-obatan berbahaya (narkoba). Berdasarkan hasil penyelidikan BNN, serbuk itu diyakini bahan untuk keperluan sembahyang. "Negatif seratus persen bukan narkoba," kata Pastika di Jakarta, Rabu (20/12).
Pastika menambahkan belum ada tersangka lain terlibat dalam kasus kematian penyanyi Alda Risma Elfariani. Menurut dia, Ferry pun belum dapat ditetapkan sebagai tersangka [baca: Alda...Pergi Tak Biasa]. "Ferry juga belum tentu tersangka. Cuma persoalannya, kenapa dia [Ferry] lari," ujar Pastika.
Setelah Alda tewas Ferry bak ditelan bumi. Belakangan muncul indikasi Ferry kabur ke luar negeri. Sebab menurut Direktur Narkoba BNN Komisaris Besar Indardi Thanos, salah satu kartu kredit milik Ferry tertinggal saat memesan tiket pesawat ke Singapura menggunakan Maskapai Singapura Airlines. Pria ini memesan penerbangan tanggal 13 Desember 2006. Polri sudah berkoordinasi dengan Kepolisian Singapura untuk menindaklanjuti kemungkinan Ferry pergi ke Negeri Singa.
Ferry menjadi sosok yang dicari karena ia terekam dalam kamera pengawas (CCTV) Hotel Grand Menteng, Jakarta Timur, saat Alda meninggal dunia. Polri juga sudah membawa gambar ke Amerika Serikat untuk diteliti dengan alat lebih canggih. Hasil dari penelitian diharapkan bisa mengungkap jati diri sosok-sosok lain yang terakhir bersama Alda di hotel.
Polisi siang ini juga akan mengumumkan hasil tes laboratorium isi dari tiga tas yang dibawa Ferry ke hotel. Barang bukti di dalam tas Ferry itu masing-masing berwarna merah, perak, dan sebuah kantong plastik transparan.
Selain polisi, wartawan juga gencar melacak keberadaan Ferry. Tadi malam, tim Liputan SCTV, mencoba mengontak salah satu nomor Ferry. Namun hanya sesaat terdengar suara seorang lelaki yang menjawab. Setelah itu telepon langsung ditutup.
Identitas Ferry yang diduga merupakan bagian dari sindikat narkoba sejauh ini memang belum terungkap benar. Sebagian kalangan mengenal lelaki berkepala plontos ini sebagai pemuka agama Buddha beraliran Tibetan. Tim Liputan Potret SCTV pernah mengabadikan gambar Ferry sedang melakukan ritual keagamaan di Magelang, Jawa Tengah, belum lama berselang. Pria ini sering disapa Rinphoce.
Ferry lahir di Jakarta tahun 1972. Ia lulus dari Universitas Washington sebagai ahli aeronautika atau kedirgantaraan. Semasa kuliah, Ferry memperdalam ilmu keagamaan atau tradisi gelug dari Yang Mulia Changdud Tulku Rinpoche. Selain guru agama Buddha Tantrayana Vajrayana, Chandud Tulku adalah guru besar di Universitas Washington.
Karena aktif di bidang keagamaan, Ferry dinobatkan sebagai Yang Mulia Serlingpa Rinpoche di Swiss tahun 1996. Gelar seperti itu mirip pendeta atau ustad di agama lain. Setelah dinobatkan dia akhirnya dikenal sebagai Biksu Ferry, pemimpin Vihara Tharpa Ling di Jalan Pangeran Jayakarta, Jakarta Pusat.
Melihat dari jatidiri Ferry sebagai biksu, Ketua Perwakilan Umat Buddha Indonesia (Walubi) Siti Hartati Murdaya mengaku tidak percaya Ferry terlibat narkoba dan juga kematian Alda. Ferry dikenal sebagai orang santun. "Jika benar Rinpoche ini melakukan itu [terlibat tewasnya Alda]. Itu diluar dugaan," kata Hartati. Ia berharap Ferry segera menyerahkan diri agar kasus ini cepat tuntas dan jelas.
Namun, Forum Solidaritas Buddhis menganggap Ferry bukanlah biksu karena telah menikah yang menjadi larangan bagi seorang biksu. Menurut Ketua Forum Solidaritas Buddhis Ponijan Liau, gelar rinponche jangan jangan disamakan dengan biksu. Adapun mengenai bahan yang semula diduga bahan narkoba di rumah Ferry apakah bagian dari bahan untuk ritual agama Buddha, pihak Forum Solidaritas Buddhis menyerahkan kepada polisi untuk menyelidikinya.
Sementara itu kakek Alda, Dede Suwardi menolak kuburan cucunya dibongkar meski untuk keperluan otopsi. Menurut Dede, jenazah Alda sudah divisum luar dan dalam saat di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, Jakarta Pusat. Tahlil tujuh hari kematian Alda digelar tadi malam di rumah Dede di Jalan Sukasari I, Bogor, Jawa Barat.(DNP/Tim Buser SCTV)
Pastika menambahkan belum ada tersangka lain terlibat dalam kasus kematian penyanyi Alda Risma Elfariani. Menurut dia, Ferry pun belum dapat ditetapkan sebagai tersangka [baca: Alda...Pergi Tak Biasa]. "Ferry juga belum tentu tersangka. Cuma persoalannya, kenapa dia [Ferry] lari," ujar Pastika.
Setelah Alda tewas Ferry bak ditelan bumi. Belakangan muncul indikasi Ferry kabur ke luar negeri. Sebab menurut Direktur Narkoba BNN Komisaris Besar Indardi Thanos, salah satu kartu kredit milik Ferry tertinggal saat memesan tiket pesawat ke Singapura menggunakan Maskapai Singapura Airlines. Pria ini memesan penerbangan tanggal 13 Desember 2006. Polri sudah berkoordinasi dengan Kepolisian Singapura untuk menindaklanjuti kemungkinan Ferry pergi ke Negeri Singa.
Ferry menjadi sosok yang dicari karena ia terekam dalam kamera pengawas (CCTV) Hotel Grand Menteng, Jakarta Timur, saat Alda meninggal dunia. Polri juga sudah membawa gambar ke Amerika Serikat untuk diteliti dengan alat lebih canggih. Hasil dari penelitian diharapkan bisa mengungkap jati diri sosok-sosok lain yang terakhir bersama Alda di hotel.
Polisi siang ini juga akan mengumumkan hasil tes laboratorium isi dari tiga tas yang dibawa Ferry ke hotel. Barang bukti di dalam tas Ferry itu masing-masing berwarna merah, perak, dan sebuah kantong plastik transparan.
Selain polisi, wartawan juga gencar melacak keberadaan Ferry. Tadi malam, tim Liputan SCTV, mencoba mengontak salah satu nomor Ferry. Namun hanya sesaat terdengar suara seorang lelaki yang menjawab. Setelah itu telepon langsung ditutup.
Identitas Ferry yang diduga merupakan bagian dari sindikat narkoba sejauh ini memang belum terungkap benar. Sebagian kalangan mengenal lelaki berkepala plontos ini sebagai pemuka agama Buddha beraliran Tibetan. Tim Liputan Potret SCTV pernah mengabadikan gambar Ferry sedang melakukan ritual keagamaan di Magelang, Jawa Tengah, belum lama berselang. Pria ini sering disapa Rinphoce.
Ferry lahir di Jakarta tahun 1972. Ia lulus dari Universitas Washington sebagai ahli aeronautika atau kedirgantaraan. Semasa kuliah, Ferry memperdalam ilmu keagamaan atau tradisi gelug dari Yang Mulia Changdud Tulku Rinpoche. Selain guru agama Buddha Tantrayana Vajrayana, Chandud Tulku adalah guru besar di Universitas Washington.
Karena aktif di bidang keagamaan, Ferry dinobatkan sebagai Yang Mulia Serlingpa Rinpoche di Swiss tahun 1996. Gelar seperti itu mirip pendeta atau ustad di agama lain. Setelah dinobatkan dia akhirnya dikenal sebagai Biksu Ferry, pemimpin Vihara Tharpa Ling di Jalan Pangeran Jayakarta, Jakarta Pusat.
Melihat dari jatidiri Ferry sebagai biksu, Ketua Perwakilan Umat Buddha Indonesia (Walubi) Siti Hartati Murdaya mengaku tidak percaya Ferry terlibat narkoba dan juga kematian Alda. Ferry dikenal sebagai orang santun. "Jika benar Rinpoche ini melakukan itu [terlibat tewasnya Alda]. Itu diluar dugaan," kata Hartati. Ia berharap Ferry segera menyerahkan diri agar kasus ini cepat tuntas dan jelas.
Namun, Forum Solidaritas Buddhis menganggap Ferry bukanlah biksu karena telah menikah yang menjadi larangan bagi seorang biksu. Menurut Ketua Forum Solidaritas Buddhis Ponijan Liau, gelar rinponche jangan jangan disamakan dengan biksu. Adapun mengenai bahan yang semula diduga bahan narkoba di rumah Ferry apakah bagian dari bahan untuk ritual agama Buddha, pihak Forum Solidaritas Buddhis menyerahkan kepada polisi untuk menyelidikinya.
Sementara itu kakek Alda, Dede Suwardi menolak kuburan cucunya dibongkar meski untuk keperluan otopsi. Menurut Dede, jenazah Alda sudah divisum luar dan dalam saat di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, Jakarta Pusat. Tahlil tujuh hari kematian Alda digelar tadi malam di rumah Dede di Jalan Sukasari I, Bogor, Jawa Barat.(DNP/Tim Buser SCTV)