Evakuasi gerbong kereta api jurusan Palembang-Lubuk Linggau ini berlangsung secara maraton. PT Kereta Api Indonesia terpaksa menggunakan grapple atau kren penggerek yang sengaja didatangkan dari Lahat. Tiga gerbong pagi tadi berhasil disingkirkan dari rel. Pihak PT KAI memang memprioritaskan pemulihan lintasan untuk memperlancar arus kereta penumpang, barang, dan kereta pengangkut bahan bakar minyak.
Kecelakaan terjadi saat KA Serelo baru meninggalkan Stasiun Lubuk Linggau, Senin pagi. Ketika melintasi jembatan Sungai Sibujuk di Kelurahan Air Kati, Lubuk Linggau, satu gerbong paling belakang anjlok dan jatuh ke sungai. Sedangkan tiga gerbong lainnya keluar dari rel [baca: Tujuh Penumpang KA Serelo Tewas].
Advertisement
Sejauh ini pihak PT KAI belum memberikan penjelasan resmi penyebab kecelakaan. Namun diduga kecelakaan terjadi akibat masinis melarikan kereta di atas ketentuan kecepatan, yakni 20 kilometer per jam saat melintas di atas jembatan. Padahal bantalan rel di jalur ini banyak yang rusak parah. Polisi hingga kini masih memeriksa masinis dan kondektur kereta. Keduanya kemungkinan bisa dijadikan tersangka dalam kejadian ini.
Dugaan lain penyebab kecelakaan tersebut disebabkan rel kereta terlalu kecil dan tua. Ini diungkapkan Kepala Hubungan Masyarakat Daerah Operasi I PT Kereta Api Indonesia Ahmad Sujadi dihubungi SCTV melalui telepon. Senada dengan Gubernur Sumsel Syahrial Usman. Ia mengatakan PT KAI sepakat mengganti rel tua tersebut secepatnya.
Sementara itu, korban tewas dalam kecelakaan ini bertambah menjadi sembilan orang. Siang tadi, seorang anggota Kepolisian Resor Musi Rawas meninggal dunia. Delapan korban telah dikebumikan pihak keluarga. Seluruh korban tewas adalah penumpang gerbong yang jatuh ke sungai [baca: Korban Tewas Kecelakaan Lubuk Linggau Dibawa Pulang].
Sedangkan 36 korban luka sampai saat ini masih dirawat di rumah sakit setempat. Enam di antaranya terpaksa dibawa ke RS Umum Palembang karena kondisinya parah. Keenam korban saat ini sudah sadar. Kebanyakan korban menderita patah tangan dan kaki, dua di antaranya harus dioperasi karena patah tulang.
Salah satu korban yang dirawat di rumah sakit ini adalah Nadia. Putri bungsu Anshori ini menderita patah tulang tangan, kaki, dan leher, serta mengalami pendarahan di kepala. Beban berat dan kesedihan juga harus dirasakan Anshori karena sang istri bersama ibu dan ayah mertuanya meninggal dalam kecelakaan tersebut.
Selain Nadia, di rumah sakit ini juga dirawat lima korban lain yang menderita luka cukup parah. Sementara 29 lainnya dirawat di dua rumah sakit di Lubuk Linggau. Dua penumpang yang hanya mengalami luka ringan sudah diperbolehkan pulang.
Kecelakaan kereta api di Lubuk Linggau bukanlah pertama kali dalam tahun 2006. Sejak awal tahun hingga Agustus silam terjadi setidaknya 63 kecelakaan. Faktor penyebab utama adalah kereta anjlok atau terguling, tabrakan dengan kendaraan bermotor, kelalaian pegawai, dan faktor alam.(IAN/Ajmal Rokian dan Yanuar Ichrom)