Selama ini pihak Tim Nasional Penanggulangan Lumpur Lapindo mengupayakan pemberhentian lumpur dengan sistem relief well. Pemasangannya juga hanya berdasarkan pada teori dan pengalaman. Dengan teknik ini diduga sumber luapan lumpur berada di kedalaman 5.100-6.300 meter dan memiliki tekanan luar biasa besar.
Berbeda dengan teknik yang dipakai selama ini, Mikail Pavlow memakai sistem SWF yang mengkombinasikan metode seismic, gravitasi dan magnetik. Sementara teknik MSM akan memonitor rekaman suara dan mendeteksi karakteristik lumpur yang ada di bawah permukaan.
Advertisement
Sementara itu, sejauh ini Timnas Penanggulangan Lumpur Lapindo masih berkutat memperkuat tanggul penahan lumpur di Jatirejo, Kecamatan Porong, Sidoarjo. Ini dilakukan untuk mengantisipasi musim hujan yang diprediksi Badan Meteorologi dan Geofisika akan turun pekan ini.
Warga setempat cemas dengan langkah tersebut. Mereka meminta tanggul tak dibuat permanen karena masalah ganti rugi masih belum direalisasi. Menjawab kekhawatiran warga ini, juru bicara Timnas Penanggulangan Lumpur Lapindo Rudi Novrianto menjamin tak akan membangun tanggul permanen. Langkah ini ditempuh untuk menjaga kemungkinan tanggul jebol lagi.
Berdasarkan pantauan SCTV, untuk memperkuat tanggul para pekerja proyek menggunakan batu kali dan ijuk. Rencananya tanggul tersebut akan ditinggikan sekitar satu meter dari tinggi semula [baca: Tanggul Penahan Lumpur Belum Berhasil Diperbaiki].(YAN/Tim Liputan 6 SCTV)