Adalah Dilam, 52 tahun, yang datang jauh-jauh ke Jakarta dengan misi menunjukkan eksistensi seni budaya tenun ikat khas Dayak. Tangan perempuan yang tinggal di Putusibau, Kalimantan Barat, ini begitu terampil memainkan gedog, peralatan tenun tradisional. Helai demi helai benang dia susun rapi hingga membentuk motif-motif cantik khas suku Dayak. Seperti nyelempit api, sarang pinggan, dan kesandung siba. Selain membutuhkan kesabaran tinggi, untuk membuat satu kain tenun diperlukan sedikitnya dua bulan.
Dilam mengaku, sejak usia 14 tahun sudah mahir menenun. Keterampilan itu didapat dari sang ibu sebagai ilmu turun temurun. Konon saat itu, hampir semua wanita Dayak bisa menenun kain dengan menggunakan gedog. Tapi sayang, kini budaya itu sudah hampir luntur tergerus oleh perkembangan zaman.
Advertisement
Selain tenun ikat khas Dayak, pengunjung pameran juga bisa menikmati keindahaan atau memiliki berbagai seni tenun tradisional dari daerah lainnya. Bentuknya pun bukan hanya kain lembaran, atau kebaya, tapi juga dalam bentuk kerajinan seperti lampion dan tudung saji.(BOG/Teguh Dwi Hartono)