Tenun Ikat, Seni Budaya yang Terlupakan

Seiring perkembangan teknologi, seni tenun ikat Dayak hampir saja terlupakan. Melalui pameran tenun tradisional Indonesia diharapkan warisan budaya ini tetap lestari.

oleh Liputan6Diterbitkan 29 September 2006, 08:50 WIB
Liputan6.com, Jakarta: Sebuah pameran tenun tradisional Indonesia digelar di kawasan Senayan, Jakarta, belum lama ini. Pameran bertujuan untuk mempertahankan seni budaya tenun, seperti tenun ikat yang hampir saja terlupakan seiring perkembangan teknologi.

Adalah Dilam, 52 tahun, yang datang jauh-jauh ke Jakarta dengan misi menunjukkan eksistensi seni budaya tenun ikat khas Dayak. Tangan perempuan yang tinggal di Putusibau, Kalimantan Barat, ini begitu terampil memainkan gedog, peralatan tenun tradisional. Helai demi helai benang dia susun rapi hingga membentuk motif-motif cantik khas suku Dayak. Seperti nyelempit api, sarang pinggan, dan kesandung siba. Selain membutuhkan kesabaran tinggi, untuk membuat satu kain tenun diperlukan sedikitnya dua bulan.

Dilam mengaku, sejak usia 14 tahun sudah mahir menenun. Keterampilan itu didapat dari sang ibu sebagai ilmu turun temurun. Konon saat itu, hampir semua wanita Dayak bisa menenun kain dengan menggunakan gedog. Tapi sayang, kini budaya itu sudah hampir luntur tergerus oleh perkembangan zaman.

Selain tenun ikat khas Dayak, pengunjung pameran juga bisa menikmati keindahaan atau memiliki berbagai seni tenun tradisional dari daerah lainnya. Bentuknya pun bukan hanya kain lembaran, atau kebaya, tapi juga dalam bentuk kerajinan seperti lampion dan tudung saji.(BOG/Teguh Dwi Hartono)

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya