Liputan6.com, Jakarta: Niat dalang Ki Pendi Hermawan menganalogikan situasi Indonesia saat ini, disambut hangat. Bahkan, lakon "Jaya Lenggakan" dalam pagelaran wayang golek yang berlangsung di Museum Wayang, Jakarta Barat, baru-baru ini, mendapat perhatian antusias dari sejumlah wisatawan mancanegara. Sebagian dari mereka sengaja menyempatkan diri untuk menonton pagelaran ini. Turis-turis itu juga menikmati berbagai koleksi museum lainnya. Sayang, tanggapan itu lebih didominasi wisatawan asing.
Galibnya misi pagelaran wayang yang sarat pesan moral buat penonton, Ki Pendi pun cermat memasukkan berbagai isu aktual yang melanda negara ini, termasuk besarnya utang negara. Isu ini digambarkan dengan keinginan Kurawa untuk melancarkan serangan terhadap Pandawa dalam Perang Bharatayudha. Perang ini kelak akan memakan korban, baik secara politik maupun ekonomi. Dengan sentuhan-sentuhan humor, sang dalang juga menyentil masalah yang hangat dibicarakan di Ibu Kota: soal premanisme yang tak tertuntaskan.
Patut disayangkan, apreasiasi terhadap wayang justru diminati "orang luar". Padahal, sampai saat ini, jumlah kelompok wayang golek di Tanah Air tinggal dihitung dengan jari. Karena itu upaya pelestarian yang lebih serius perlu dilakukan. Sebab, terbukti sudah, turis asing lebih mau menyimak budaya yang kian ditinggalkan bangsanya sendiri.(COK/Tri Ambarwatie dan Anto Susanto)
Galibnya misi pagelaran wayang yang sarat pesan moral buat penonton, Ki Pendi pun cermat memasukkan berbagai isu aktual yang melanda negara ini, termasuk besarnya utang negara. Isu ini digambarkan dengan keinginan Kurawa untuk melancarkan serangan terhadap Pandawa dalam Perang Bharatayudha. Perang ini kelak akan memakan korban, baik secara politik maupun ekonomi. Dengan sentuhan-sentuhan humor, sang dalang juga menyentil masalah yang hangat dibicarakan di Ibu Kota: soal premanisme yang tak tertuntaskan.
Patut disayangkan, apreasiasi terhadap wayang justru diminati "orang luar". Padahal, sampai saat ini, jumlah kelompok wayang golek di Tanah Air tinggal dihitung dengan jari. Karena itu upaya pelestarian yang lebih serius perlu dilakukan. Sebab, terbukti sudah, turis asing lebih mau menyimak budaya yang kian ditinggalkan bangsanya sendiri.(COK/Tri Ambarwatie dan Anto Susanto)