Polisi di Indonesia juga mendapat pelatihan bela diri tanpa senjata api. Anggota Kepolisian Resor Bekasi dipilih menjadi pilot project program ini. Targetnya yaitu peningkatan profesionalisme. Hasilnya mulai terasa. Kasus-kasus kejahatan yang terungkap di atas 40 persen. Besaran yang jauh lebih besar dibanding tahun sebelumnya.
Selain itu, Polri berencana mendirikan pos-pos polisi lingkungan atau koban seperti di Jepang. Pos yang diuji coba di kawasan Mekarsari, Bekasi Barat, Jawa Barat ini mampu melayani keluhan warga dalam waktu singkat. Keberadaan pos ini disambut positif warga setempat. Sugianto misalnya, mengakui kinerja petugas terdongkrak dengan adanya koban. "Untuk pelayanan lebih cepat," ujar pria yang melapor telah kehilangan buku tabungan itu. Hal serupa disampaikan seorang pedagang bernama Ibu Bayu, "Nggak ada yang reseh-reseh."
Advertisement
Kunjungan ke rumah-rumah warga juga menjadi agenda rutin para polisi yang ditempatkan di koban. Margareta dan Endang misalnya, mereka adalah dua dari 15 polisi wanita yang ditempatkan di koban kawasan Mekarsari. Secara berkala keduanya mengunjungi warga untuk menampung keluhan. Pekerjaan itu telah dilakoni selama lebih dari enam bulan.
Selain membangun koban, Pemerintah Jepang juga mengirimkan anggotanya ke Indonesia. Yasuyuki Sekine adalah salah satunya, polisi asal Tokyo ini terlibat langsung dalam menangani kasus pembunuhan yang terjadi di Kampung Rawa, Margahayu, Bekasi. Sekine membagi pengetahuannya lewat pelatihan mengenai metode analisis forensik deoksiribonukleat (DNA). Begitu pula pemeriksaan sidik jari serta identifikasi tempat kejadian perkara.
Menurut Mano Yoji, pimpinan proyek, program ini bertujuan agar polisi di Indonesia menjadi polisi sipil. Hal itu diamini Kepala Kepolisian Resor Metro Bekasi Komisaris Besar Polisi Chairul Anwar. "Sekarang represi penegakan hukum itu ditempatkan pada tempat terakhir," jelas Chairul Anwar.(AIS/Tim Liputan 6 SCTV)