Adikku Sayang, Adikku Malang

Seorang siswi sekolah menengah pertama di Bekasi, Jawa Barat, ditemukan tewas mengenaskan di kamar rumahnya. Novi diduga kuat dibunuh kakaknya sendiri yang merasa sakit hati karena cintanya ditolak.

oleh Liputan6Diterbitkan 02 Agustus 2006, 03:17 WIB
Liputan6.com, Bekasi: Warga Kampung Rawa Semut Marga Rahayu, Bekasi Timur, Jawa Barat, Kamis (20/7) silam, digegerkan dengan penemuan mayat Novi, siswi kelas tiga sebuah sekolah menengah pertama. Gadis berusia 17 tahun ini tewas dengan leher mengeluarkan darah. Sementara tangan kanannya penuh sayatan benda tajam.

Jasad putri satu-satunya pasangan Husein dan Manisa pertama kali ditemukan adiknya Dede tergeletak di kamar rumah. Penemuan mayat Novi kemudian dilaporkan warga ke Kepolisian Sektor Bekasi Timur dan Kepolisian Resor Metro Bekasi. Beberapa saat kemudian polisi tiba di lokasi. Tim identifikasi Polres Bekasi langsung mengamankan tempat kejadian dan memeriksa jasad Novi [baca: Siswi SMP Tewas Dibunuh].

Kematian Novi secara mengenaskan keruan saja mengundang duka yang mendalam bagi keluarga korban. Orang yang paling bersedih atas kematian almarhumah adalah ibu kandung korban. Tangis kesedihan Manisa terasa begitu memilukan bagi siapa saja yang mendengarnya.

Sementara itu, setelah jasad Novi dievakuasi polisi memeriksa kamar Dwi Nugroho, kakak kandung korban. Pemeriksaan dilakukan karena Nugroho mendadak menghilang saat kejadian. Dari tempat ini, polisi mengamankan sejumlah barang bukti. Termasuk di antaranya buku yang berisi tulisan Nugroho yang ditujukan kepada adiknya. Yang mengherankan, salah satu isi tulisan tersebut berisi ajakan Nugroho untuk mati bersama-sama.

Tidak cukup dengan mengumpulkan barang bukti, polisi juga kemudian meminta keterangan beberapa saksi terkait kematian Novi. Bahkan Husein, ayah korban dibawa ke kantor polisi untuk dimintai keterangan lebih lanjut.

Berdasarkan hasil penyelidikan, polisi menduga kuat Novi tewas karena dibunuh. Dan untuk sementara calon tersangka pembunuhnya adalah Nugroho. Pasalnya polisi hingga kini belum menemukan kemungkinan adanya pelaku lain. "Dari tempat kejadian perkara kami menemukan alat yang diperkirakan digunakan pelaku untuk membunuh, yakni gergaji dan golok," kata Kapolres Metro Bekasi Komisaris Besar Polisi Chairul Anwar.

Meski pelaku kasus pembunuhan ini telah terungkap namun sampai saat ini polisi masih belum menemukan Nugroho. Kapolres telah memerintahkan Kepala Kesatuan Reserse dan Kriminal Komisaris Polisi Nasrudin agar terus melakukan upaya pencarian. Sejumlah personel dari Polsek Bekasi Timur dibantu Polres Metro Bekasi disebar ke berbagai tempat yang dicurigai sebagai tempat persembunyian Nugroho.

Perkiraan polisi dibenarkan Manisa. Dia malah yakin Novi dibunuh kakaknya sendiri. Kecurigaan ini didasarkan dari kelakukan Nugroho sejak empat bulan terakhir. Menurut Manisa, hubungan antara Nugroho dan Novi kurang baik. Dia juga kerap menunjukkan sikap yang tidak terpuji kepada Dede dan kedua orang tuanya.

Anehnya lagi, lanjut Manisa, Nugroho sering menunjukkan perilaku menyimpang. Dia suka menggoda Novi. Bahkan adiknya Dede juga sering dimarahi jika terlalu berdekatan dengan Novi. Sikap aneh Nugroho itu tentu saja ditentang Manisa. Beberapa kali Nugroho dinasihati agar tidak mengulang perbuatannya. Bahkan kelakuan Nugroho ini sudah dilaporkan kepada Ketua Rukun Tetangga. Tapi, dia
balik memarahi ibunya. "Dia pernah mengatakan akan ada pertumpahan darah di rumah ini. Saya sempat curiga tapi tidak sedalam itu," kata Manisa.

Rupanya ucapan Nugroho seperti menjadi kenyataan. Manisa yakin meninggalnya Novi ada kaitannya dengan ancaman yang pernah dilontarkannya. Apalagi sejak Novi ditemukan tewas, Nugroho tak pernah pulang ke rumah.

Selama ini Manisa memang tidak tinggal serumah dengan ke empat anaknya. Ini dikarenakan dia dan suaminya harus menjaga warung yang letaknya sekitar 300 meter dari rumah. Masa kecil Nugroho sebenarnya banyak dihabiskan di rumah neneknya di daerah Wonosobo, Jawa Tengah. Setelah menyelesaikan sekolah dia kembali tinggal bersama ibu dan tiga saudaranya.

Sedangkan Husein, sejak musibah menimpa kedua anaknya, dia tidak lagi membuka warung. Hanya sesekali dia datang untuk membersihkan warung. Husein mengaku lelah memikirkan keberadaan Nugroho saat ini. Husein juga merasakan keganjilan perilaku Nugroho terhadap Novi. Malah dia sudah melihatnya sejak tahun 2004 atau saat Novi menginjak bangku SMP. Kejanggalan perilaku Nugroho ditambah lagi dengan kebiasaannya bersemedi tiap malam. "Waktu itu saya tidak menegurnya. Paling-paling itu doa untuk keselamatannya," kata Husein.

Husein memang tidak pernah melarang kebiasaan semedi tersebut. Namun dia akan marah jika Nugroho selalu menganggu Novi. Sementara Adi, anak pertama Husein yang selalu tidur bersama Nugroho tidak pernah diganggu. Saking jengkelnya, Husein pernah mengusir Nugroho dari rumahnya.

Manisa dan Husein tidak menyangka Nugroho yang dulu sangat penurut kini berubah. Dahulu dia begitu bangga dengan Nugroho lantaran termasuk anak yang pandai. Selepas lulus dari Sekolah Teknik Menengah jurusan listrik Nugroho sering membantu tetangga. Itu dilakukan setelah dia berhenti menjadi satuan pengaman di sebuah hipermarket di Bekasi.

Sedangkan di mata para tetangga, Nugroho adalah sosok yang pendiam. Menurut Indra, tetangga, Nugroho jarang bergaul. Pendapat serupa juga dilontarkan tetangga lainnya, Aam. Menurut Aam, Nugroho tidak pernah ke luar rumah selepas bekerja. "Paling dia keluar malam hari," ujar Aam.

Peristiwa tragis yang menimpa Novi terus menjadi perbincangan masyarakat. Nita dan Alfiatun, teman sekolah Novi, mengaku merasa kehilangan dengan kematian rekannya. Sebelum meninggal korban sering bercerita tentang perilaku aneh Nugroho. Rasa kehilangan juga dirasakan guru sekolah Novi. Yuni berharap pembunuh Novi bisa segera tertangkap. Meskipun itu kakak kandungnya sendiri. Sementara itu, para tetangga mengenal Novi sebagai gadis pendiam. Iis mengenal Novi sebagai anak yang lebih sering berada di rumah.

Kasus pembunuhan Novi juga mendapat perhatian psikolog Sartono Mukadis. Menurut Sartono, apa yang dilakukan oleh calon tersangka merupakan bentuk penyimpangan kepribadian. Karena itu Sartono menghimbau kepada orang tua yang memiliki anak laki-laki dan perempuan agar lebih waspada.(IAN/Tim Derap Hukum)

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya