Tragedi Qana Menuai Kecaman Keras

Israel berdalih serangan ke Desa Qana, dilakukan karena wilayah tersebut digunakan gerilyawan Hizbullah melepaskan tembakan roket. Tragedi di Qana mengundang kecaman keras dari penjuru dunia.

oleh Liputan6Diterbitkan 01 Agustus 2006, 08:24 WIB
Liputan6.com, Tel Aviv: Israel berdalih serangan ke Desa Qana, Lebanon bagian selatan, Ahad silam, dilakukan karena dua hari sebelumnya gerilyawan Hizbullah melepaskan tembakan roket dari wilayah tersebut. Demikian dikemukakan juru bicara pasukan pertahanan Israel (IDF) dalam konferensi pers di Tel Aviv, Israel, Senin (31/7). Untuk menegaskan alasannya, IDF memperlihatkan rekaman video yang menunjukkan tembakan roket Katyusha milik Hizbullah tersebut.

Dalam serangan di Qana, jet tempur Israel membombardir sebuah bangunan tiga lantai. Sejumlah pengungsi wanita dan anak-anak yang tengah berlindung di bawah tanah terperangkap. Dari 56 korban tewas, 37 di antaranya anak-anak [baca: Desa Qana Terus Digempur].

Militer Israel menyatakan penyesalannya atas insiden tersebut. Namun kemudian berdalih serangan tersebut bukan sepenuhnya kesalahan Israel. Tragedi di Qana ini juga telah membuyarkan upaya gencatan senjata yang coba dirancang Amerika Serikat dan PBB sejak pertemuan Roma. Akibatnya pertemuan yang tengah membahas solusi krisis di Lebanon menemui jalan buntu.

Pascatragedi Qana, pihak Israel kemudian menyatakan akan menghentikan serangan udara selama 48 jam ke Lebanon. Ini untuk memudahkan proses evakuasi dan penyelidikan terhadap insiden tersebut. Namun janji itu dilanggar Israel. Sedikitnya dua serangan udara dilancarkan Israel di Lebanon selatan. Jet-jet tempur Israel sejak pagi membombardir posisi kelompok Hizbullah di Desa Yanta, Lebanon timur, dekat perbatasan Suriah [baca: Israel Kembali Membombardir Lebanon].

Sementara itu, Perdana Menteri Israel Ehud Olmert dengan tegas menyatakan tidak akan ada gencatan senjata dengan Lebanon. Pernyataan Olmert ini dikeluarkan setelah pihak Hizbullah menyatakan akan terus mengangkat senjata melawan Israel. Beredar kabar roket Hizbullah berhasil menghantam sebuah kapal perang Israel. Berita tersebut langsung disambut gembira warga Beirut dengan menyalakan petasan di jalan-jalan kota. Tembakan senapan ke udara juga terdengar di sejumlah penjuru kota.

Hizbullah mengklaim, sejumlah roketnya berhasil merusakkan sebuah kapal perang Israel yang tengah berlabuh di lepas pantai Lebanon selatan dekat kota Pelabuhan Tyre. Sebaliknya Israel membantah adanya insiden tersebut. Menurutnya, tidak ada kapal perang Israel yang diserang kemarin.

Kebijakan Israel menggempur Lebanon selatan dengan dalih menyelamatkan tentaranya kembali menuai reaksi keras dari warganya. Di Jerusalem dan Haifa, puluhan orang berunjuk rasa menuntut pemerintah pimpinan Olmert menghentikan perang dan kembali ke meja perundingan.

Aksi serupa juga terjadi di Argentina. Ratusan warga ibu kota Buenos Aires turun ke jalan dan bergerak menuju Kedutaan Besar Lebanon. Kedatangan mereka adalah untuk memberikan dukungan bagi rakyat Lebanon. Para pengunjuk rasa juga menuntut Israel menghentikan aksinya. Karena dinilai sebagai genosida terhadap rakyat Lebanon.

Kemarahan juga ditunjukkan warga kota Paris, Prancis. Ratusan warga berunjuk rasa di Trocadero Square, menuntut agar Israel menghentikan pembantaian dan genosida yang  dilakukan di Lebanon. Mereka juga menuntut gencatan senjata segera dilakukan untuk mengurangi jatuhnya korban.

Sementara di Suriah, dukungan kuat terhadap rakyat Lebanon diberikan anak-anak dan remaja. Mereka berdemonstrasi di depan Gedung PBB di Damaskus. Para pengunjuk rasa kemudian memberikan surat protes anak-anak Suriah dan Lebanon, yang isinya mengecam gempuran Israel di Lebanon.

Unjuk rasa serupa juga digelar di ibu kota Iran, Teheran. Pengunjuk rasa yang didominasi kaum ibu mengecam keras tragedi Qana yang banyak menewaskan anak-anak dan perempuan. Kecaman juga ditujukan kepada AS termasuk Menteri Luar Negeri Condolezza Rice. Dia dinilai telah menunjukkan keberpihakan pada Israel.

Di Sadr City, Baghdad, Irak, sekitar dua ratus perempuan juga turut menunjukkan solidaritas terhadap kaum perempuan Lebanon yang menjadi korban dalam tragedi Qana. Mereka mengusung sejumlah keranda berselubungkan kain hitam tanda duka cita mendalam. Turut serta dalam unjuk rasa ini puluhan anak-anak. Sambil berjalan kaki mereka meneriakkan kecaman terhadap Israel dan dukungan terhadap perlawanan Hizbullah.

Sedangkan di Indonesia, sejumlah mahasiswa Gorontalo dari Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia dan Himpunan Mahasiswa Islam berunjuk rasa mengecam invasi Israel ke Lebanon. Mereka membakar bendera AS sebagai wujud protes atas dukungan negara ini terhadap Israel.(IAN)

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya