Jejak-jejak kebesaran daerah ini hingga kini masih terlihat. Wilayah yang dialiri Sungai Siak dengan luas total 8.500 kilometer persegi ini sampai saat ini tetap setia memelihara warisan budaya leluhurnya. Ini terlihat dari masih kuatnya jejak kejayaan Kerajaan Siak di masa silam. Salah satu buktinya adalah bangunan Istana Siak. Istana yang dibangun pada 1889 itu masih megah berdiri.
Menurut Zainnuddin, Koordinator Umum Istana Sultan Siak, Istana Siak dibangun semasa kepemimpinan sultan ke-11, Sultan Hasyim, ayah Sultan Syarif Hasyim. Di Istana, kata Zainnuddin, banyak tersimpan benda-benda kuno, seperti patung Ratu Wilhemina, kursi singgasana, serta kursi kristal khusus menerima tamu permaisuri kerajaan. "Ada juga barang terlangka di dunia, yakni alat musik gramophone yang diberi nama Komet. Di dunia cuma ada dua. Satu di Jerman, satunya lagi di Siak Sri Indrapura," kata Zainnuddin.
Advertisement
Alat musik itu dibawa pada 1896 silam saat Sultan Hasyim melawat ke beberapa kerajaan di Eropa. Berdampingan dengan gramophone terdapat 17 piringan hitam hasil ciptaan komponis terkenal Eropa, seperti Bethoven, Strauss dan Mozart. Hingga kini alat musik ini masih dapat menghasilkan alunan musik yang indah. Meski menurut pengelola Istana, gramophone ini hanya dibunyikan pada saat-saat tertentu saja.
Istana Siak juga banyak menyimpan benda-benda kerajaan bernilai seni tinggi. Di antaranya lukisan, guci-guci Tiongkok, dan tangga kayu berbentuk melingkar dengan detail ukiran dan warna menarik. Di lantai dua terdapat kamar-kamar penghuni Istana yang kini diisi benda-benda kerajaan lainnya, seperti pakaian kebesaran Raja Siak, foto-foto keluarga kerajaan, senjata, serta berbagai peralatan memasak.
Kemasyhuran Istana Siak dengan benda-benda kunonya mendapat perhatian dari pemerintah setempat. Pada 1989, Istana Siak dijadikan museum oleh Dinas Pariwisata Seni Budaya dan Olah Raga Provinsi Riau. Sejak dijadikan museum, banyak turis baik asing maupun domestik mengunjungi tempat ini. Apalagi saat liburan sekolah ramai dikunjungi wisatawan dari seluruh Indonesia. "Wisatawan yang datang biasanya terkejut. Kok pada jaman 1889 kerajaannya sudah modern. Siak di masa kepemimpinan Sultan Hasyim ternyata sudah canggih," kata Zainnuddin.
Salah seorang pengunjung Hajah Ida Nursidah dan H.M Tholib, mengaku datang ke museum karena ingin mengetahui sejarah Kerajaan Siak. Selain itu dia juga ingin melihat makam dan masjid Sultan Syarif. "Saya khusus datang dari Jakarta mengisi masa liburan. Enggak nyangka ya bangunannya masih bagus, semua terpelihara dengan baik. Saya juga bangga sama karyawan di sini. Cuma sayang, kok kereta kencananya nggak ada," kata Ida.
Kabupaten Siak memang banyak sekali menyimpan kekayaan budaya. Namun kota yang terletak sekitar 130 kilometer dari Pekanbaru ini juga menyimpan sumber daya alam yang melimpah, seperti pertanian, perkebunan nanas, dan kelapa sawit. Daerah yang kini dihuni sekitar 300 ribu jiwa ini juga kaya minyak bumi, dan industri pengelolaan hasil hutan berupa kayu. Semua potensi tersebut ditunjang dengan kesadaran masyarakatnya yang tetap menjaga tradisi budaya leluhurnya, secara maksimal bisa dimanfaatkan Pemerintah Kabupaten Siak.(IAN/Tim Usaha Anda)
Komplek Perkantoran Tanjung Agung
Desa Sungai Mempura, Siak Sri Indrapura
Telp: (0764) 20444
Fax: (0764) 20294
Website: www.Siak.com