Warga di Lereng Merapi Menolak Diungsikan

Warga di Dusun Turgo, Desa Purwobinangun, Kecamatan Pakem, Kabupaten Sleman, DIY, menolak diungsikan. Padahal aktivitas Gunung Merapi masih tinggi. Setidaknya terjadi sembilan kali gempa vulanik dangkal.

oleh Liputan6Diterbitkan 17 April 2006, 18:51 WIB
Liputan6.com, Yogyakarta: Aktivitas Gunung Merapi tercatat masih tinggi. Hingga pukul 16.00 WIB, terjadi sembilan kali gempa vulkanik dangkal, 92 kali multifase atau gempa di kubah lava, serta guguran lava enam kali.

Deformasi atau rekahan di puncak Merapi juga bertambah panjang. Dari Pos Pengamatan Babatan atau arah barat tercatat delapan sentimeter. Adapun dari arah Kaliurang atau selatan mencapai 6,3 cm. Tercatat juga asap sulfatara putih tebal bertekanan lemah setinggi 75 meter. Ini menurun dibanding pagi tadi yang maksimal mencapai 200 meter [baca: Aktivitas Merapi Meningkat].

Kendati aktivitas Gunung Merapi terus meningkat, warga di kawasan lereng Merapi menolak untuk diungsikan. Warga Dusun Turgo, Desa Purwobinangun, Kecamatan Pakem, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, misalnya. Mereka beralasan belum melihat adanya tanda-tanda alam yang selalu menyertai terjadinya letusan Merapi. Yaitu, turunnya satwa liar dari gunung dan keluarnya awan panas atau disebut warga setempat wedhus gembel.

Pihak Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kegunungapian (BPPTK) Yogyakarta mengatakan, kegiatan Merapi tidak bisa hanya diamati secara visual. Sementara mengenai turunnya binatang, sudah tak dapat dijadikan patokan. Sebab, satwa sudah banyak berkurang menyusul letusan Merapi pada tahun 1994.

Warga sendiri saat ini tidak mengetahui status Merapi. Mereka hanya tahu diperintahkan untuk waspada. Warga mau dipindahkan kalau sudah terjadi letusan. Seperti hari sebelumnya, selama musim hujan ini, sejak tengah hari tadi hujan terus mengguyur kawasan puncak Merapi.(BOG/Wiwiek Susilo)

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya