Liputan6.com, Jakarta: Harga buku impor tampaknya akan mengalami kenaikan dalam pekan-pekan ini. Nilai rupiah yang terpuruk, hingga mendekati Rp 12 ribu per dolar Amerika Serikat, juga akan menurunkan penjualan buku impor sekitar 10 sampai 15 persen. Hal ini dikatakan Ahmad Lazmi, seorang manajer operasional toko buku impor, baru-baru ini, di Jakarta.
Menurut Lazmi, selama ini ia berusaha mengantisipasi ketidakstabilan nilai tukar rupiah dengan strategi mematok kurs. Namun, dengan nilai rupiah yang terperosok seperti sekarang ini, strategi itu menjadi tak efektif. Apalagi, sebagian besar buku impor dijual dengan asumsi kurs rupiah Rp 10 ribu per dolar AS. "Itu sebabnya, harga buku impor mungkin akan naik," kata Lazmi.
Untuk tiga bulan pertama, kata Lazmi, penjualan buku impor akan menurun. Sebab, di saat semua harga naik, masyarakat lebih memilih mengalokasikan dananya untuk keperluan yang mendesak. Selama ini, penjualan buku impor di toko buku milik Lazmi berkisar antara enam ribu sampai tujuh ribu eksemplar per bulan. Itu pun hanya jenis buku interior, politik, dan fiksi yang diminati masyarakat.(ULF/Dian Pertiwi dan Agus Kusnohadi)
Menurut Lazmi, selama ini ia berusaha mengantisipasi ketidakstabilan nilai tukar rupiah dengan strategi mematok kurs. Namun, dengan nilai rupiah yang terperosok seperti sekarang ini, strategi itu menjadi tak efektif. Apalagi, sebagian besar buku impor dijual dengan asumsi kurs rupiah Rp 10 ribu per dolar AS. "Itu sebabnya, harga buku impor mungkin akan naik," kata Lazmi.
Untuk tiga bulan pertama, kata Lazmi, penjualan buku impor akan menurun. Sebab, di saat semua harga naik, masyarakat lebih memilih mengalokasikan dananya untuk keperluan yang mendesak. Selama ini, penjualan buku impor di toko buku milik Lazmi berkisar antara enam ribu sampai tujuh ribu eksemplar per bulan. Itu pun hanya jenis buku interior, politik, dan fiksi yang diminati masyarakat.(ULF/Dian Pertiwi dan Agus Kusnohadi)