Marwi, contohnya. Perempuan dengan delapan anak yang tinggal di Kecamatan Kasemen, Kabupaten Serang, Banten, ini terpaksa makan nasi aking buat menyambung hidup. Sebab, mereka sudah tak mampu lagi membeli beras yang harganya Rp 4.000 per liter. "Sehari-hari, ya, makannya nasi aking. Nggak kebeli beras sih," ungkap Marwi dalam dialog Liputan 6 Petang SCTV, Ahad (29/1).
Nasi aking adalah nasi bekas yang sudah dikeringkan dan kemudian dimasak kembali. Biasanya dimakan dengan campuran parutan kelapa dan garam. "Keluarga kami sudah setahun makan nasi aking," beber perempuan berperawakan kurus yang suaminya tak mempunyai pekerjaan tetap itu. Marwi mendapatkan nasi bekas dari sisa nasi di warung-warung dan tetangga. "Kalau ada. Kalau nggak ada, ya, diam saja," jelas Marwi dalam logat Sunda yang kental.
Advertisement
Ironis, memang. Tapi begitulah faktanya. Bahkan, bukan cuma Marwi yang mengonsumsi nasi aking. Karena ada beberapa tetangganya yang juga terpaksa makan nasi aking. "Yang saya tahu ada tiga keluarga. Semuanya miskin-miskin," kata Marwi dengan suara terbata-bata menahan tangis.
Bagi Marwi membeli nasi aking adalah pilihan paling realistis untuk menyambung hidup. Soalnya harga nasi aking hanya Rp 1.000 per kilogram. Sementara dalam sehari dia butuh dua kilogram nasi aking [baca: Beras Mahal, Warga Terpaksa Makan Nasi Aking]. Terkadang dia juga tak perlu membeli, karena ada saja tetangga ada warung nasi yang sukarela memberikan sisa nasi bekas milik mereka.
Pemerintah daerah setempat bukan tak pernah memberi bantuan, "Tapi itu sudah setahun yang lalu. Saya mendapat beras 40 liter dan mi satu kardus," ungkap Marwi. Dan, setelah itu, sampai berita ini ditulis keluarga Marwi belum pernah menerima bantuan apa pun lagi.(ICH)