Sejauh ini ledakan bom di Pasar Maesa, Kota Palu, Sulawesi Tengah, masih menyisakan trauma mendalam bagi warga setempat. Kety yang menjadi saksi hidup mengaku masih dibayangi ketakutan. Apalagi sang suami tewas dalam ledakan bom Sabtu pagi. "Saya yang lihat langsung, ya," ujar perempuan ini. "Kami mohon tolong ya supaya masalah-masalah di Kota Palu ini bisa tuntas," harap dia. Rasa cemas juga dirasakan Baharia, warga Palu lain. Perempuan separuh baya ini mengaku merasa tidak aman saat berada di tempat publik. "Kami selalu takut, resah," tukas Baharia.
Semalam di Kota Palu, puluhan warga setempat dan aktivis lembaga swadaya masyarakat menggelar aksi keprihatinan di depan Taman Gelanggang Olahraga, Jalan Mohammad Hatta. Warga mengutuk pengeboman yang menewaskan tujuh orang dan melukai sedikitnya 50 lainnya [baca: ].
Dengan menyalakan lilin, mereka menggelar spanduk yang berisi tuntutan agar polisi mengusut kasus ini dan tindak kekerasan lainnya. Mereka juga mengimbau warga Palu tak terpengaruh dan terpecah belah dengan adanya teror yang seolah-olah bertendensi suku, agama, ras, dan antargolongan. Aksi damai yang berlangsung tanpa pengawalan polisi ini berjalan tertib dan lancar hingga selesai.(MAK/Tim Liputan 6 SCTV)
Advertisement