Permukiman di Lintasan KA Tidak Terkendali

Meski kecelakaan kerap terjadi di sepanjang jalur lintasan kereta api, jumlah permukiman tetap tidak terkendali. Warga mengaku tak punya pilihan lain di tengah desakan kebutuhan ekonomi.

oleh Liputan6Diterbitkan 30 Desember 2005, 09:18 WIB
Liputan6.com, Jakarta: Banyaknya permukiman yang terdapat di sekitar jalur lintasan kereta api di Jakarta semakin tidak terkendali. Padahal, sudah sama-sama diketahui kalau adanya permukiman di samping jalur sarana transportasi ini sangat berbahaya, baik bagi kelancaran perjalanan kereta api maupun keamanan warga. Lihat saja tragedi Gunung Antang, Jatinegara, Jakarta Timur, pada April silam, yang menewaskan enam orang warga serta melukai sembilan lainnya [].

Kendati demikian, tragedi itu belum bisa mengubah pola hidup masyarakat yang menetap di sekitar rel kereta api. Bahkan, seperti pantauan SCTV di beberapa titik seperti wilayah Bongkaran Tanah Abang, Kota Intan Angke, bahkan Gunung Antang, kehidupan malam serta lalu-lalang warga di atas rel kereta api tetap berlangsung.

Menurut salah seorang pedagang, Sami, dia sebenarnya mengetahui adanya larangan berjualan di pinggir rel kereta api. Bahkan, wanita ini kerap merasa takut saat berjualan di samping deru mesin kereta api yang lewat. "Tapi mau bagaimana lagi, saya hanya numpang hidup [di sini]," ujar Sami lirih.

Tidak hanya itu, keberadaan permukiman di sekitar lintasan kereta api juga memiliki banyak dampak buruk lainnya. Misalnya saja, adanya permukiman di atas saluran air membuat rel akan tergenang dan anjlok saat hujan turun. Namun, hingga saat ini PT Kereta Api belum mampu mengatasi maraknya permukiman liar maupun kehidupan malam di tempat itu. Kendalanya, anggaran tidak pernah mencukupi.(ADO/Teguh Dwi Hartono)

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya