Cak Nur: Gus Dur Mesti Melarang Jihad

Pasukan Berani Mati siap ke Jakarta. Cak Nur mendesak Gus Dur melarang aksi para pendukungnya. Namun, Said Agil Siradj meminta elite politik untuk maklum.

oleh Liputan6Diterbitkan 18 April 2001, 06:16 WIB
Liputan6.com, Jakarta: Cendekiawan Nurcholis Madjid mendesak Gus Dur dan pimpinan Nahdhatul Ulama untuk melarang para pendukungnya melakukan jihad. Sebab, aksi kekerasan terhadap para penentang Gus Dur itu justru akan merugikan semua pihak. Cak Nur juga meminta kearifan seluruh elite politik dalam menyelesaikan persoalan bangsa. Demikian penegasan Cak Nur di Jakarta, Selasa (17/4).

Cak Nur menilai, aksi massa tersebut muncul sebagai reaksi spontan yang ditimbulkan oleh ketidaktegasan pemimpin mereka. Menurut dia, banyak kelompok di Jawa Timur yang sebetulnya tidak menyukai aksi-aksi seperti itu. Karena itu, ia berharap, ketegasan Gus Dur melarang aksi pendukungnya bisa mencegah hal-hal yang tak diinginkan.

Di sisi lain, Rais Syuriah Pengurus Besar NU Kiai Haji Said Agil Siradj meminta elite politik untuk memaklumi sikap pasukan berani mati yang ingin membela Gus Dur. Sebab, menurut Agil Siradj, reaksi massa pendukung Gus Dur adalah respon terhadap aksi massa yang menghina ulama dan kiai.

Sementara itu, Markas Besar Kepolisian RI meminta agar latihan pasukan berani mati di Jawa Timur dihentikan. Hal itu disampaikan Kepala Pusat Penerangan Polri Inspektur Jenderal Polisi Didi Widayadi di Jakarta. Menurut Didi, jika latihan perang seperti itu tak juga dihentikan, maka kepolisian akan bertindak untuk membubarkannya, melalui Kepolisian Daerah Jatim.

Namun, pada saat yang hampir bersamaan, Kapolda Jawa Timur Inspektur Jenderal Polisi Sutanto menyatakan akan mengedepankan pendekatan persuasif dalam menghadapi pasukan berani mati. Sebab, menurut Sutanto, berdasarkan laporan dari koordinator lapangan, latihan yang diselenggarakan FPK bukan latihan militer, melainkan latihan rutin olah tubuh.

Sementara itu, Koordinator Front Pembela Kebenaran Gresik Muhammad Subur menyatakan, pasukannya tidak akan membawa senjata tajam ke Jakarta. Sebab, keberangkatan FPK memang bukan untuk perang tapi untuk mengikuti istighotsah 29 April mendatang. Hal itu diutarakannya di pusat pelatihan FPK di Dusun Nambi, Desa Karangrejo, Manyar, Gresik.

Menurut Subur, semua anggota FPK dirsiapkan untuk membela kebenaran dan menghadapi kelompok yang ingin memecahbelah persatuan dan kesatuan bangsa. Sehubungan dengan itu Pasukan FPK dari Gresik akan melakukan istighotsah dan bergabung dengan pasukan dari daerah lainnya di Jawa Timur, seperti Jember dan Banyuwangi di Jakarta.

Sebanyak 10 ribu warga FPK Gresik tersebut juga telah menunjukkan ilmu kekebalan dan kanuragan yang mereka miliki, pada Senin malam. Sebelumnya, mereka telah mengikuti pemusatan pelatihan selama satu bulan. Pasukan yang dibina oleh Kiai Haji Kusnun Nadhor itu telah memiliki ilmu kebal, di antaranya kebal senjata tajam, peluru, gas air mata, hingga ledakan.

Sebagian pasukan FPK juga ada yang mampu mengatasi pengeroyokan dan sebagian malah bisa merayap di dinding dan menghilang. Selain untuk mengikuti Istighosah NU, keberangkatan ke Jakarta juga ditujukan untuk memantau secara langsung Sidang Paripurna DPR yang mengagendakan pendapat akhir fraksi-fraksi tentang jawaban presiden terhadap Memorandum pertama DPR.

Namun, di Jakarta, sebanyak 585 personel Komando Daerah Militer di Jakarta akan mengadakan apel Komandan Satuan atau Dansat di Ciampea, Bogor, Jawa Barat hari ini dan besok. Selain untuk mempererat rasa kebersamaan antara komandan dan prajurit, apel tersebut juga dimaksudkan untuk mengevaluasi pelaksanaan tugas yang telah dicapai masing-masing satuan.

Berdasarkan pantauan SCTV, apel yang bertempat di tanah lapang dan daerah perbukitan juga diisi dengan berbagai aktivitas dan latihan. Kegiatan itu ditujukan untuk menambah kemampuan menghadapi musuh, mengatasi situasi genting, serta meningkatkan kemampuan kerjasama di antara prajurit TNI dalam bertugas. Apel tersebut juga melibatkan 46 kendaraan tempur.

Panglima Daerah Militer Jaya Mayor Jenderal TNI Bibit Waluyo menyatakan, apel dan latihan ini merupakan kegiatan rutin tahunan yang tidak ada hubungannya dengan keberadaan pasukan berani mati. Apel yang dibuka Pangdam Jaya tersebut rencananya ditutup pada Rabu sore oleh Kepala Staf TNI AD Jenderal TNI Endriartono Sutarto.(HFS/Tim Liputan 6 SCTV)

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya