Gereja Puhsarang yang Masih Kokoh Berdiri

Misa Tirakatan kerap berlangsung di Gereja Puhsarang setiap sebulan sekali, tepatnya pada Jumat Legi. Jalannya misa diiringi alunan musik gamelan dan sejumlah lagu rohani berbahasa Jawa.

oleh Liputan6Diterbitkan 17 Desember 2005, 09:32 WIB
Liputan6.com, Kediri: Di tempat yang indah dan jauh dari keramaian kota berdiri Gereja Puhsarang. Gereja tua berumur 73 tahun itu terletak di Desa Puhsarang, Kecamatan Semen, Kabupaten Kediri, Jawa Timur. Di atas areal seluas sepuluh hektare ini dibangun Goa Maria Lourdes, jalan salib, Pondok Rosario hingga bumi perkemahan.

Keistimewaan dari Gereja Puhsarang adalah konstruksi bangunannya terbuat dari batu kali dan bata merah yang direkatkan salah satunya menggunakan gula merah. Bahan lain sebagai perekat antara lain tetes tebu molase, kapur, dan gamping. Adapun reng dan usuk atap gereja terbuat dari kawat baja yang memungkinkan genteng bergerak bila diembus angin kencang. Sementara Goa Maria Lourdes dan Patung Maria yang berada di samping gereja, semuanya juga terbuat dari batu.

Gereja yang digunakan beribadah sejak zaman Pemerintah Kolonial Hindia Belanda ini didirikan tahun 1932 oleh Hendricus Maclaine Port, pastor Humbertus Walters, dan warga setempat. Meski sudah beberapa kali direnovasi, bentuk asli gereja tetap dipertahankan. Setiap Jumat Legi, Gereja Puhsarang menggelar Misa Tirakatan lengkap diiringi alunan gamelan dan sejumlah lagu rohani berbahasa Jawa.

Di dalam gereja, pengunjung dapat melihat ukiran perpaduan budaya Jawa dan Buddha yang terukir indah pada relief-relief di dinding dan meja altar. Semuanya masih asli dan dipertahankan sesuai bentuk semula. Di relief-relief itu banyak terdapat gambar binatang dan orang yang melambangkan kisah-kisah di Alkitab.

Relief lembu, misalnya. Binatang menyusui ini melambangkan penulis Injil, Santo Lucas. Lembu selama ini dianggap sebagai binatang yang bodoh. Artinya Injil adalah kitab yang mudah dimengerti meski oleh orang bodoh sekalipun.

Secara keseluruhan, relief di Gereja Puhsarang menggambarkan keadaan dunia yang kacau. Namun seiring berjalannya waktu, kekacauan akan berhenti dengan hadirnya Yesus Kristus untuk kedua kalinya. Hingga kini Gereja Puhsarang masih dikunjungi para peziarah setiap Ahad dan Jumat.

Sejak lima tahun silam, kawasan ziarah Puhsarang memiliki sebuah fasilitas baru yakni Columbarium, Crematorium dan Mausoleum. Columbarium adalah tempat penyimpanan jenazah berupa loker-loker di dinding. Sedangkan Mausoleum merupakan makam khusus uskup dan Romo. Salah satu yang dimakamkan adalah abu mantan uskup Surabaya Monsignor Yohannes Hadiwikarta. Satu loker dapat diisi dua abu jenazah.

Bersebelahan dengan abu uskup Mausolium dan Columbarium adalah bumi perkemahan Bukit Tagor. Di sana terbentang lahan seluas satu hektare buat disinggahi oleh siapa saja dengan biaya cukup murah. Setiap orang dikenakan biaya Rp 1.000 per hari. Di bumi perkemahan itu tersedia fasilitas mandi cuci kakus (MCK) dan air bersih yang dipakai gratis.

Bagi jemaat Katolik yang ingin berdoa rosario, Gereja Puhsarang menyediakan tiga pondok rosario. Ketiga pondok itu dibangun berdasarkan misteri hidup Yesus Kristus yang direnungkan dalam doa rosario. Antara lain peristiwa sedih, khususnya selama masa menjelang Paskah dan hari Jumat serta peristiwa gembira serta mulia.

Di lingkungan Gereja Puhsarang juga terdapat kios-kios cendera mata yang menawarkan aneka pernak-pernik ibadah. Di sana ada berbagai jenis rosario, patung-patung Yesus, Bunda Maria, malaikat, dan salib aneka ukuran. Harga barang-barang tersebut dijual relatif sama dengan kios-kios lainnya sekitar Rp 40 ribu.

Salah satu suvenir adalah kaos-kaos bertuliskan "Doa Bapak Kami" dengan beragam versi bahasa, dua di antaranya Arab dan Mandarin. Bila bingung, di belakang kaos tertera petunjuk membacanya doa-doa itu. Tak sedikit memang yang datang membeli keperluan untuk Misa Tirakatan yang akan digelar pada pukul 24.00 WIB. Usai membeli sejumlah barang-barang, para peziarah mendatangi Goa Maria Lourdes.

Goa itu merupakan replika dari Goa Maria di Lourdes, Prancis. Di kompleks Goa Maria Lourdes inilah diteruskan tradisi ziarah Katolik berupa Misa Novena Bunda Maria dan Misa Tirakatan Jumat Legi. Sebelum mengikuti misa biasanya jemaat menggelar prosesi jalan salib untuk mengingat kasih Tuhan Yesus di kayu salib.

Malam yang dinanti pun tiba. Dua jam sebelum misa dimulai atau pukul 22.00 WIB, suasana di Goa Maria Lourdes sudah ramai. Banyak di antara mereka yang membawa jaket, tikar, bantal, payung, dan lainnya. Suasananya mirip seperti piknik. Arus pengunjung seakan tak pernah berhenti. Mereka juga menyempatkan diri membeli keperluan ibadah seperti lilin dan buku liturgi.

Sepanjang melakukan ritual jalan salib, baik secara individu dan berkelompok, mereka berdoa dan bernyanyi di setiap stasi  yang dilalui. Iring-iringan dituntun dengan nyala lilin yang mereka bawa. Kelima belas stasi yang ada menggambarkan perjalanan sengsara Yesus menuju kayu salib untuk menebus dosa umat manusia.

Prosesi dimulai dengan menyanyikan Derek Maria atau dalam bahasa Jawa berarti Ikut Bunda Maria. Prosesi kemudian dilanjutkan dengan penggotongan patung Maria menuju goa sambil diiringi salam Maria.

Sebuah lagu berjudul />Memuji Pangeran/> dilantunkan diiringi karawitan. Untaian kalimat dalam lagu mengawali perayaan Ekaristi, malam itu. Misa ini lahir dari budaya Jawa yang menganggap Jumat Legi merupakan hari baik. Belakangan tradisi ini dijadikan agenda tetap. Namun secara garis besar pelaksanaan Misa Tirakatan tidak jauh berbeda dengan misa lainnya.(AIS/Grace Natalie dan Effendi Kassa))

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya