Busung Lapar Masih Ditemukan di Cirebon

Penderita gizi buruk dan busung lapar di Cirebon sepanjang 2005 ini mencapai 3.700 balita. Orang tua balita tak mampu memberi makanan bergizi. Padahal kasus ini telah merebak sejak enam bulan silam.

oleh Liputan6Diterbitkan 11 Desember 2005, 20:07 WIB
Liputan6.com, Cirebon: Busung lapar di Papua hanyalah puncak gunung es. Kekurangan gizi dan busung lapar juga merebak di Kabupaten Cirebon, Jawa Barat, Ahad (11/12). Sepanjang tahun ini bayi di bawah usia lima tahun yang mengalami kurang gizi mencapai 3.700 orang. Diduga, orang tua balita penderita terbentur masalah ekonomi sehingga tak mampu memberi makanan bergizi.

Sebelumnya kasus serupa telah dilaporkan sejumlah media massa enam bulan silam. Bahkan sejumlah pejabat mengumbar pernyataan untuk mengatasi busung lapar. Tapi tetap saja penderita belum tertangani dengan baik.

Iin, misalnya, balita 2 tahun ini tiga bulan silam pernah dinyatakan kurang gizi. Ayahnya yang bekerja sebagai kuli bangunan tak mampu memberikan makanan tambahan bergizi. Karena itu Tariyah, sang ibu, hanya memberikan makanan sekadarnya. Keluarga ini terbentur kebutuhan ekonomi yang mendesak. Keadaan serupa juga dialami Ani, 3 tahun, warga Desa Comberan Kulon, Kecamatan Cirebon Selatan.

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Cirebon Retina Sri Sejati menyatakan pada 2005 balita kurang gizi mencapai 3.700 orang. Angka ini berarti berkurang dibandingkan tahun lalu yang mencapai 4.005 balita. Menurunnya angka penderita tak lepas dari upaya pemerintah dalam menerapkan program layanan gratis. Antara lain pengobatan gratis serta pemberian makanan tambahan berupa susu bubuk dan biskuit. Menurut Retina, para balita kekurangan gizi karena tingkat ekonomi masyarakat yang tak memadai.

Busung lapar juga terjadi di Nusatenggara Barat dan Nusatenggara Timur. Sama dengan Cirebon, kasus ini pernah dilaporkan sejumlah media enam bulan silam. Reaksi pemerintah juga hampir sama dan berjanji akan membereskan masalah ini. Namun sejauh ini busung lapar masih belum ditangani serius. Warga setempat baru sekali mendapat makanan tambahan [].

Contoh nyata dalam penanganan kasus ini dialami Stef Boysala, 4 tahun. Penderita gizi buruk di Kelurahan Naioni, Kecamatan Alak, Kota Kupang, NTT, baru sekali memperoleh bantuan makanan tambahan. Kristin, ibu Stef, hanya bisa berharap bantuan perbaikan gizi anaknya diteruskan hingga kondisi sang anak membaik.

Data Biro Bina Sosial NTT mengemukakan ada 13 ribu kasus gizi buruk di provinsi ini. Malahan 38 orang di antaranya meninggal dunia. Sedangkan di Kupang sendiri sedikitnya terdapat 3.400 kasus gizi buruk, 33 orang di antaranya meninggal. Pemerintah Provinsi NTT mengaku telah menyalurkan bantuan makanan tambahan senilai Rp 25 miliar.

Hal serupa dialami warga penderita gizi buruk di Lombok, NTB. Sejak mencuat Agustus, korban gizi buruk hanya menerima susu yang diberikan sepekan sekali. Slamet, misalnya, penderita gizi buruk di Ampenan ini kondisinya memang telah membaik. Meski begitu ia masih memerlukan makanan tambahan untuk memulihkan kesehatan. Sepertinya penanganan kasus gizi buruk hanya marak saat kasus tersebut mencuat di media.(MAK/Tim Liputan 6 SCTV)

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya