Lulusan University of Western, Australia ini menjabat Menteri Keuangan dari 2001 hingga 2004. Ketatnya dia mengawasi putaran uang membuat anggaran tahunan berjalan sesuai rencana. Inflasi tidak pernah melewati dua digit dan berada di kisaran delapan hingga sembilan persen.
Demikian juga dengan nilai tukar rupiah, terkendali antara Rp 8.800 hingga Rp 9.400 per dolar Amerika Serikat. Suku bunga perbankan juga tidak pernah lebih dari sepuluh persen. Dosen Fakultas Ekonomi Universitas Gadjah Mada itu pun dinilai irit bicara sehingga tidak banyak mengeluarkan pernyataan yang meresahkan pasar.
Advertisement
Ketatnya menjaga stabilitas anggaran membuat Boediono melupakan perkembangan sektor riil. Dia dianggap hanya memikirkan sektor keuangan negara tetapi tak menyediakan dana cukup pada anggaran pembangunan. Akibatnya, angka pengangguran meningkat. Selain itu banyak privatisasi Badan Usaha Milik Negara untuk menutup defisit.
Sementara itu, Aburizal mengaku berterima kasih pada Presiden Susilo Bambang Yudhoyono setelah ditunjuk sebagai Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat. "Ini adalah peningkatan dari kinerja saya selama ini yang dikerjakan sebagai Menko Perekonomian," kata Aburizal. Beberapa program telah dipersiapkan, di antaranya pembangunan sumber daya manusia dan penanggulangan kemiskinan.
Dua nama yang muncul dalam kabinet Indonesia Bersatu adalah Ketua Komisi XI DPR Paskah Suzetta dan Erman Suparno. Paskah mengaku kesiapannya mengatasi sejumlah persoalan di masyarakat. Paskah menyebutkan jabatan sebagai Menteri Negara Perencanaan Pembangunan Nasional atau Kepala Bappenas itu sebagai tugas tambahan. "Saya terima karena tugas dari negara dan jangan sampai mengecewakan," kata Paskah.
Demikian juga dengan Erman. Wakil Ketua Komisi V DPR dari Fraksi Kebangkitan Bangsa tersebut menyatakan persoalan perburuhan dan upah adalah pekerjaan rumahnya setelah ditunjuk menjadi Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi. "Inilah yang harus kita pikirkan bersama," kata Erman.(JUM/Tim Liputan 6 SCTV)