Azahari Tewas, Teror Tetap Mengancam

Tewasnya gembong teroris Doktor Azahari tidak lantas menghapus ancaman teror terhadap negara ini. Kader binaan si peracik bom itu masih banyak berkeliaran dan siap menebar teror kapan saja.

oleh Liputan6Diterbitkan 20 November 2005, 16:29 WIB
Liputan6.com, Jakarta: Sosok yang menjadi momok itu kini telah tiada. Doktor Azahari bin Husin, nama yang selama ini membuat gentar sekaligus geram masyarakat, akhirnya menuai ajal di jalan kekerasan yang dipilihnya. Dalam sebuah penyergapan oleh aparat keamanan di Jalan Flamboyan Raya, Kabupaten Batu, Jawa Timur, 9 November silam, gembong teroris itu tewas setelah tubuhya ditembus peluru polisi [].

Jenazah Azahari baru diterbangkan ke Malaysia pada Kamis pekan lalu, setelah seluruh proses pembuktian serta otopsi di Indonesia dinilai telah memberi kepastian tentang identitas almarhum. Pada hari itu juga, jasadnya dikebumikan di Kampung Batu, Jalan Chin Chin, Melaka, Malaysia, tepat di belakang kediaman keluarga Azahari [].

Sejarah hidup Azahari memang telah tamat, namun bagi keluarga serta orang-orang terdekatnya, perjalanan hidup pria ini sangat mencengangkan. Pasalnya, sejak kecil hingga beranjak dewasa, Azahari tidak memperlihatkan sikap atau pemikiran yang menyimpang. Bahkan, Azahari muda adalah sosok yang lebih tertarik pada bidang sains ketimbang ilmu agama.

Sebagai putra tertua dari sepuluh bersaudara, dia dikenal sebagai pribadi yang pendiam dan lebih suka berkutat dengan pelajaran sekolah. Sebagaimana diutarakan salah seorang teman satu sekolahnya, Azahari dikenal sangat menonjol untuk mata pelajaran matematika selain mata pelajaran lainnya. Selain itu, kondisi ekonomi keluarga yang cukup mapan, membuat masa kecilnya dilalui tanpa ada masalah.

Tidak cukup dengan ilmu yang didapatnya di Malaysia, pria kelahiran 14 September 1957 itu memutuskan untuk belajar ke Australia pada akhir 1970-an. Empat tahun lamanya di Negeri Kanguru, tetap saja tak terlihat perilaku radikal dalam dirinya. Bahkan, Azahari sempat gagal meraih gelar master di Kota Adelaide gara-gara terlalu sering pelesir. Gelar itu akhirnya bisa disabet setelah Azahari pulang ke Malaysia.

Sekitar tahun 1980, Azahari mendapat kesempatan belajar di Reading University, Inggris. Karena memang cerdas, dosennya memberikan rekomendasi untuk menempuh program doktoral. Pada 1990, Azahari pun meraih gelar philosophie doctor  (Ph.D.) dalam kajian model statistika dengan predikat cum laude.

Dengan menyandang gelar itu, langkah Azahari untuk menjadi dosen di Fakultas Teknik dan Ilmu Geoinformasi Universitas Teknologi Malaysia (UTM) di Skudai, Johor Bahru, tak menemui kendala. Selain dikenal sebagai dosen yang cerdas, mantan mahasiswa Azahari juga mengenalnya sebagai dosen yang pintar memberi kuliah, sehingga gampang dicerna. Sebagai seorang dosen, kondisi ekonomi Azahari pun semakin mapan. Bahkan, semua mobil yang dimiliki Azahari dan digunakan untuk mengajak keluarganya keliling kota di akhir pekan, adalah produk impor.

Perjalanan hidup Azahari mulai menapaki sejarah baru ketika pada 1991 dia bergabung dalam sebuah kelompok pengajian di Skudai. Di sini pula dia mulai gandrung dengan masalah-masalah keagamaan serta berkenalan dengan Noordin M. Top, salah seorang mahasiswanya di UTM. Tanpa banyak diketahui rekan-rekannya sesama dosen, Azahari lantas aktif di Pesantren Lukmanul Hakim, Ulu Tiram.

Pesantren yang terletak di antara perkebunan kelapa sawit di lahan seluas kurang lebih lima hektare itu memberikan pendidikan agama dan umum kepada murid tingkat ibtidaiyah atau setara dengan sekolah dasar. Di pesantren ini pula Amrozi dan Ali Gufron alias Muchlas (dua terpidana mati kasus Bom Bali) pernah menempuh pendidikan agama.

Hanya saja, saat ini Pesantren Lukmanul Hakim tak lagi beroperasi. Menurut penjaga aset pesantren ini, Abdurrahman, pesantren ditutup karena ketiadaan guru serta kurangnya sambutan masyarakat terhadap sekolah berbentuk madrasah. Namun begitu, Abdurrahman mengaku tidak pernah melihat Azahari datang ke pesantren. Berbeda dengan Noordin yang diakuinya sebagai salah satu tenaga pengajar di Lukmanul Hakim.

Saat masih beroperasi, pesantren ini dikenal sebagai lembaga pendidikan dengan biaya termurah, yang hanya sekitar 90 ringgit atau sekitar Rp 220 ribu per bulan. Bayaran itu sudah termasuk untuk penginapan, makan tiga kali sehari dan perlengkapan sekolah. Selain itu, deretan kelas serta bangunan pesantren yang terlihat rapi, sangat mengesankan kalau kehadiran lembaga pendidikan ini direncanakan dengan baik.

Tapi, Azahari yang mulai memperlihatkan minat tinggi terhadap ilmu agama serta aktif di berbagai kajian Islam, masih merasa tak cukup dengan apa yang didapatnya. Tahun 1999 dia memutuskan untuk berhenti sebagai staf pengajar di UTM. Alasannya sederhana, kesibukan di luar kampus dan pengajian-pengajian yang diikutinya semakin padat.

Menurut kakak ipar Azahari, Cik Wan, Azahari sama sekali tidak pernah memberitahukan aktivitas yang dilakoninya. Azahari menurutnya, sengaja tidak memberitahukan aktivitasnya karena tidak ingin keluarga mengalami kesulitan yang sama dengan yang dihadapinya. Meninggalkan UTM, Azahari kemudian dikabarkan sempat mengajar sebagai dosen ilmu fisika di Universitas Gajah Mada, Yogyakarta [].

Pada tahun yang sama, Azahari berangkat ke Mindanao, Filipina Selatan, untuk mengikuti pelatihan menembak dan meracik bahan peledak. Di sini pula dikabarkan dia berteman baik dengan Fathur Rohman al-Ghozi. Tahun 2000, Azahari melanjutkan "kursus" berbahaya itu di Kandahar, Afghanistan, bersama Hambali alias Encep Nurjaman. Sekitar Januari-Maret 2002, dia disebutkan berada di Thailand, bersama dengan Noordin dan Ali Imron.

Sampai di sini, nama Azahari masih belum bergema di luar komunitasnya. Namanya baru terdengar usai tragedi bom di Kuta, Bali, pada 12 Oktober 2002 [].  Azahari disebut-sebut oleh Ali Imron, salah seorang terdakwa bom Bali pertama, sebagai peracik dan perakit bom yang menewaskan ratusan nyawa manusia itu. Sejak itu, bersama Hambali, Azahari menjadi buronan yang paling dicari aparat.

Apalagi setelah Hambali tertangkap, Azahari bergeser ke daftar buronan utama. Konon, ketika diinterogasi agen Dinas Intelijen Amerika Serikat (CIA), Hambali yang merupakan salah satu pemimpin puncak Jamaah Islamiyah mengakui Azahari yang menggantikan kedudukannya.

Tak pelak, Azahari kemudian menjadi orang paling dicari oleh intelijen di banyak negara. Apalagi setelah banyak pihak merinci keahlian yang dimilikinya. Seorang polisi Indonesia yang terlibat dalam pengejaran lelaki itu menggambarkan, bahwa Azahari memang pakar dalam urusan merangkai bahan peledak. Sedangkan sumber lain menyatakan kalau Azahari layaknya kamus bom berjalan, piawai merangkai kombinasi pemicu ledakan, dan nyaris tak pernah gagal.

Julukan itu agaknya tidak salah. Melalui serangkain peledakan bom yang terjadi Ibu Kota setelah tragedi di Kuta, Azahari tidak hanya piawai merakit bom, tapi juga licin menghindar dari kejaran aparat. Akibatnya, ledakan demi ledakan yang "disutradarai" Azahari nyaris tak bisa dibendung []. Terakhir, Azahari kembali menebar teror saat tiga ledakan mengguncang Bali pada awal Oktober silam []

Cerita menyeramkan tentang Azahari memang telah usai, namun teror agaknya belum akan berhenti. Pasalnya, kader-kader binaan pria ini masih berkeliaran dan diperkirakan siap menebar teror lanjutan. Apalagi dengan masih buronnya Noordin, tokoh lain di balik teror bom yang mengguncang Indonesia.

Sebuah sumber Sigi menyebutkan, pasukan berani mati atau Laskar Istimata binaan Azahari dan Noordin diperkirakan berjumlah 30 orang. Kalau dikurangi dengan sembilan bom bunuh diri yang sudah terjadi, maka diasumsikan masih ada 21 martir lainnya yang siap beraksi. Data ini jelas bukan omong kosong, karena dari temuan aparat, mereka telah dilatih dengan ketat di lokasi pelatihan militer [].

Bahkan, seperti disebutkan peneliti dari International Crisis Group, Sidney Jones, kepada tim Sigi beberapa waktu lalu, Noordin sebenarnya jauh lebih berbahaya. Diakui oleh Jones, tewasnya Azahari adalah kehilangan besar bagi kelompok teroris itu. Namun, untuk urusan strategi serta perencanaan aksi, tetap saja Noordin yang memegang kendali [].

Selain itu, munculnya sinyaleman tentang generasi baru teroris yang lebih muda dan militan, semakin memperkuat keyakinan tentang bahaya terorisme yang masih mengancam. Faktanya, tiga pria yang menjadi pelaku bom Bali kedua, yakni Salik Firdaus, Misno dan Aip Hidayat, adalah orang muda dan tergolong pendatang baru.

Soal keyakinan jangan ditanya. Dari rekaman video yang memuat pesan-pesan terakhir ketiganya untuk keluarga masing-masing, bisa didengarkan bagaimana militannya sikap yang mereka anut atas nama jihad bagi Islam [].

Justisifikasi jihad bagi aksi teror inilah yang membuat resah banyak kalangan, khususnya kaum ulama. Sebagaimana disebutkan cendekiawan muslim yang juga mantan Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Syafii Maarif, paham yang dianut para teroris itu tidak bisa diterima.

Membunuh seorang manusia di dalam Alquran, kata Syafii, sama artinya dengan membunuh seluruh manusia. Begitu juga sebaliknya, memberi hidup seorang manusia dapat diartikan memberi hidup seluruh umat manusia. "Kalau membunuh orang sebanyak itu, jihad apanya? Itu perbuatan yang biadab," tegas Syafii.

Diakui, pengertian tentang terminologi jihad bagi gerakan teroris di manapun selalu tak sejalan dengan apa yang dianut komunitas Islam dunia. Bagi mereka yang meyakini jihad akan mempercepat dirinya sampai di surga, tugas membawa bom di pinggang adalah hal yang sangat dinantikan. Pemikiran semacam itu pula yang membuat aksi teror tak akan pernah berhenti. Sekalipun seorang Azahari sudah tak ada.(ADO/Tim Sigi)

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya