Agrowisata Tanaman Obat di Leuwiliang

Selain mempelajari khasiat tumbuhan obat tradisional, pengunjung dapat melihat cara mengolah sekaligus mencicipinya. Usai mengelilingi perkebunan kunjungi saja Curug Ngumpet di kaki Gunung Salak di Pamijahan.

oleh Liputan6Diterbitkan 12 November 2005, 09:00 WIB
Liputan6.com, Bogor: Bosan jalan-jalan ke tempat yang itu-itu saja? Mengapa tidak mencoba berwisata ke kebun tanaman obat tradisional Karyasari di Desa Karyasari, Leuwiliang, Bogor, Jawa Barat. Wisata ke sana dijamin memuaskan. Selain menikmati kesejukan alam, kita bisa belajar langsung mengenai tanaman tradisional. Usai keliling kebun, kita bisa melepaskan lelah di Curug Ngumpet.

Kebun Karyasari terletak di kaki Gunung Sangabuana. Lokasi terletak 20 kilometer sebelah barat Kota Bogor dan dapat dicapai dalam dua sampai 2,5 jam dari Jakarta. Jika tidak membawa kendaraan pribadi, kita bisa berangkat dari Terminal Bogor. Ongkosnya relatif murah, sekitar Rp 3.000 per orang. Andai tak ingin susah, pengelola Kebun Karyasari menyediakan paket wisata dari Jakarta langsung dengan biaya Rp 75 ribu per orang.

Pergi ke Kebun Karyasari adalah rekreasi edukatif karena kita dapat mengenali dan mempelajari tanaman obat di lingkungan tumbuhnya yang alamiah. Ada 200 jenis tanaman di kebun pembibitan dengan lingkungan taman dan di kebun koleksi dengan lingkungan hutan. Sementara jumlah tanaman yang telah dikembangkan sebanyak 500 jenis. Kita bisa mempelajari itu semua dengan bantuan pemandu terlatih.

"Luas kebun sekitar 1,4 hektare," kata juru pandu Heri Jumantoro saat mendampingi reporter SCTV Eva Yunizar dan juru kamera Effendi Kassah, baru-baru ini. Heri dengan cekatan menjawab pertanyaan seputar tanaman obat yang dirawatnya. "Ini dauh gendih untuk mengobati diabetes," ujar Heri sambil memperlihatkan kumpulan tanaman gendih. Menurut dia, penderita diabetes dapat meminum air rebusan 30 gram daun gendih. Satu hari setengah gelas air rebusan gendih.  

Ada juga tanaman penawar kanker atau disebut juga pladitikus. "Daunnya mirip kepala tikus," papar Heri soal keganjilan nama tanaman itu. Cara mengolah dengan merendam beberapa batang pladitikus dan meminumnya secara rutin. Jika memakai metode pengeringan, daun itu disantap dengan campuran madu. "Biar tenggorokan tidak gatal," jelas Heri.

Untuk mengobati penyakit flu burung yang akhir-akhir ini mewabah, lanjut Heri, bisa meminum rebusan daun cakar ayam. Sedangkan penangkal virusnya "dipercayakan" ke daun sambiloto yang terkenal pahit. Heri menambahkan, bagi kaum wanita yang ingin melangsingkan tubuh dapat mengkonsumsi daun jati Belanda. Di luar tanaman yang telah disebutkan tadi, ada juga tumbuhan jakang untuk mengobati gatal akibat gigitan nyamuk atau buah honje buat menghilangkan bau badan.

Tak puas hanya mendengar penjelasan juru pandu, kita dapat melihat sendiri cara mengolah tanaman-tanaman obat. Tempat pengolahan itu sederhana, yaitu sebuah saung. Kita dapat duduk di dalamnya sambil memperhatikan juru pandu memasak tanaman. Jika sudah matang pengunjung pun bisa mencicipi langsung. "Jamu lebih efektif diminum saat perut kosong," kata Heri, memaparkan trik meminum jamu yang lebih tepat sasaran. Untuk sekadar buah tangan, pengelola juga menyediakan tanaman obat dalam bentuk kemasan.

Penat berjalan menyusuri perkebunan, kita menuju ke Curug Ngumpet, sekitar 200 meter dari Jalan Raya Cisalak Endah. Disebut Curug Ngumpet karena lokasinya memang tersembunyi di kaki Gunung Salak di kawasan Pamijahan. Andai berangkat dari terminal Bogor, ongkosnya Rp 8.500 per orang. Perjalanan kemudian disambung dengan berjalan kaki kurang lebih sepuluh menit.

Jalan menuju air terjun itu cukup berliku. Selain terjal juga menanjak. Namun, rasa lelah terbalas dengan indahnya pemandangan sepanjang perjalanan. Begitu tiba di kawasan Curug Ngumpet, sejuknya air pegunungan makin terasa. Dan, kita pun leluasa mandi atau sekadar mencuci muka di bawah air terjun itu.(KEN)

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya