Menurut Jones, Noordin adalah penyusun strategi. Dia yang merencanakan semua aksi, misalnya pengeboman di Hotel W.J. Marriott, depan Kedutaan Besar Australia di Kuningan, Jakarta Selatan, dan kemungkinan bom Bali II. Sedangkan Azahari ahli merakit bom dan mengajar anak-anak baru cara merakit bom. "Tapi bukan dia [Azahari] yang menjadi otak aksi yang terjadi selama tiga tahun belakangan ini."
Siapa pun bisa belajar dan mengajar cara merakit bom. "Tapi perlu seseorang [seperti Noordin] yang punya kharisma untuk merekrut orang untuk mengikuti aksi semacam ini dan perlu orang yang betul-betul merencanakan, menetapkan tujuan dan target" kata pakar terorisme kelahiran 31 Mei 1952.
Advertisement
Mantan Direktur Divisi Asia Human Rights Watch menambahkan, jika persembunyian Azahari bisa terendus, dia yakin polisi juga pasti akan menemukan jejak Noordin dan beberapa pengikutnya. "Polisi harus diberi selamat karena ini semacam pekerjaan detektif yang betul-betul luar biasa," kata warga Amerika Serikat yang fasih berbahasa Indonesia ini.
Sidney tidak dapat memastikan bahwa pascakematian Azahari, Noordin akan membentuk kelompok baru lagi untuk jihad di Indonesia. Tapi, dia juga yakin, Noordin telah membentuk kelompok baru sekitar lima atau enam bulan silam. Tentu saja, kelompok ini tidak beranggota satu atau dua orang saja. "Jadi kemungkinan masih ada kelompok bom bunuh diri yang siap melakukan aksi," kata aktivis yang pernah dideportasi dari Indonesia ini [baca: Komisi I Berjanji Membantu Sidney Jones Kembali].
Selain Noordin, ada Zulkarnain, mantan Ketua Bagian Intelijen JI dan beberapa tokoh lain yang belum tersentuh. Jadi taruhlah Noordin ditangkap, masih ada pentolan JI lain yang berkeliaran di luar sana. "Kita berharap tokoh-tokoh lain ditangkap dalam waktu dekat," ujar perempuan yang pernah melansir makalah berjudul Al-Qaeda in Southeast Asia: The Case of The Ngruki Network; in Indonesia, Agustus 2002 .
Sidney juga tidak bisa menjawab ketika ditanya soal sumber dana para tersangka teroris ini. "Saya tidak tahu," kata dia. Bisa saja mereka mendapatkan dana dari luar negeri. Tapi, bisa juga mengumpulkan dana dari dalam negeri. "Seperti merampok orang kafir untuk mendanai aksi jihad di Indonesia", kata dia. Ini dilakukan oleh Kelompok Serang dengan merampok toko emas di Serang, Banten, Agustus 2002 [baca: ].(TNA/Tim Liputan 6 SCTV)